Peringatan Kepada Penyembah Kubur

Ritual-syiah-di-kuburanPenulis : Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

1. “Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah melarang kubur di kapur, dan diduduki atasnya, dan didirikan bangunan di atasnya, atau ditambah, atau ditulis di atasnya.”
(Hadits shahih riwayat: Muslim (3/63), Abu Dawud (no. 3225,3226), Ahmad (3/295, 332, 339 dan 399), Tirmidzi, Nasa’i, Hakim (1/370) dan Baihaqy (4/4).

2. “Dari Abil Haayaj Al-Asady, ia berkata: Telah berkata kepadaku Ali bin Abi Thalib: “Mengapakah aku tidak mengutusmu sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengutusku, yaitu : Janganlah engkau biarkan sebuah patungpun melainkan harus engkau membinasakannya (menghancurkannya) dan jangan engkau biarkan sebuah kuburanpun yang tinggi melainkan harus engkau ratakan.”
(Hadits shahih riwayat: Muslim (3/61), Abu Dawud (no. 3220), Nasa’i, Tirmidzi Hakim (1/369), baihaqy(4/3), Ahmad, Ath Thayaalis (no. 155), dan Thabrani di kitabnya Mu’jam Shagier hal. 29)

3. “Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Sungguh kalau salah seorang kamu duduk di atas bara api sampai membakar pakaiannya lalu menembus kulitnya, masih lebih baik baginya dari pada duduk di atas kubur.”
(Hadits shahih riwayat: Muslim (3/62), Abu Dawud (no. 3228), Ahmad (2/311, 389, 444), Baihaqy (4/79), Ibnu Majah dan Nasa’i)

Fiqih Hadits:

  1. Haram hukumnya mengapur kubur, memplesternya, menemboknya sebagaimana kebanyakan kuburan sekarang ini.
  2. Haram kukumnya duduk di atas kubur. Hadits no. 3 menunjukan kepada larangan yang sangat keras.
  3. Haram hukumnya melebihkan tanah dari hasil galian lubang kubur. Yakni tingginya kubur itu tidak boleh lebih dari galian lubang kubur itu. Maka wajib dibuang jika kedapatan “lebih” sebagaimana perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di atas.
  4. Haram hukumnya menuliskan nama mayat, tanggal lahir dan wafatnya di batu nisan sebagaimana umumnya kuburan sekarang ini. Demikian secara zhahirnya larangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Adapun memberikan tanda dengan batu di kepala kubur tidaklah mengapa karena telah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana riwayat Imam Abu Dawud (No. 3206) dan Baihaqy (3/412) dengan sanan hasan.

4. “Dari Abi Martsad Al-Ghanawiy, ia berkata: aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Janganlah kamu shalat menghadap ke kuburan, dan janganlah kamu duduk di atasnya“. (Hadits shahih riwayat: Muslim (3/62), Abu Dawud (no. 3229), Ahmad, Nasa’i dan Tirmidzi dll)
Fiqih Hadits :
Haram hukumnya shalat menghadap ke kubur jika bukan untuk mengagungkan dan membesarkannya, jika shalat menghadap kubur itu dengan maksud untuk mengagungkan dan membesarkannya maka tidak syak (ragu) lagi hukumnya kufur dan syirik karena telah dengan langsung mengadakan penyembahan terhadap kubur.

5. “Dari Abi Said Al-Khudriyyi, ia berkata: Telah bersabda Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : “Bumi/tanah ini semuanya tempat bersujud kecuali kubur dan kamar mandi”.
(Hadits Shahih riwayat: Abu Dawud (no. 745), Ahmad, Tirmidzi, Hakim, Ibnu Hibban).

6. “Dari Anas, ia berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah melarang (mengerjakan) shalat di antara kuburan. (riwayat Al-Bazzar)
Telah berkata Imam Haitsami di kitabnya Majma’uz Zawaaid juz 2 hal. 27: Rawi-rawinya adalah rawi-rawi shahih.

7. “Dari Ibnu Umar, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Jadikanlah di rumah-rumah kamu sebagian dari shalat-shalat kamu, dan janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu itu sebagai kuburan”.
(Hadits shahih riwayat: Bukhari (1/112, 2/56), Ibnu Majah (no. 1377), Baihaqy (2/186), 435).

8. “Dari Abi Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu sebagai perkuburan, sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah”.
(Hadits shahih riwayat: Muslim (2/188), Ahmad (2/284, 337, 387, 388), Tirmidzi dan Nasa’i).

Fiqih Hadits :
Shalat di setiap Maqbarah (setiap tanah yang di situ ditanam seorang mayit), baik di situ ditanam seorang mayat maupun lebih (seperti daerah pekuburan), baik menghadap kubur atau membelakanginya, di sebelah kanannya atau di sebelah kirinya adalah terlarang/haram. Dan menurut sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ( baca Nailul Authar hal. 112 jilid 2) adalah shalatnya batal/tidak sah, telah berkata Ahmad bin Hambal :
Barangsiapa shalat di maqbarah atau shalat menghadap ke kubur, maka (wajib) mengulang (shalatnya) selamanya”.
(baca : Al-Muhalla oleh Ibnu Hazm jilid 3 hal. 27, 28)

berdasarkan hadits no 7 dan 8 mafhumnya :

  1. Bahwa kuburan itu bukanlah tempat shalat (umumnya ibadah). Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggemarkan umatnya supaya mengerjakan shalat sunnah di rumah. Lantaran rumah yang tidak dishalati di dalamnya (dikerjakan ibadah di dalamnya) sebagai kuburan yang bukan tempat shalat.
  2. Bahwa kuburan itu bukanlah tempat membaca Al-Qur’an. Karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggemarkan umatnya supaya membaca Al-Qur’an di rumah. Sebab rumah yang tidak dibacakan Al-Qur’an di dalamnya seperti kuburan yang bukan tempat membaca Al-Qur’an.

9. Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Laknat Allah kiranya menimpa kepada Yahudi dan Nashara yang telah menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid- masjid (tempat beribadah)”. (kata Aisyah): Beliau menakuti (umatnya) seperti apa yang mereka (Yahudi dan Nashara) telah kerjakan.
(Hadits shahih riwayat : Bukhari (1/112), Muslim (2/67), Ahmad (1/218, 6/34, 229 & 275), Darimi (1/327), Baihaqy (4/80) dan Nasa’i dari jalan Aisyah dan Abdullah bin Abbas.

10. Telah Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Allah melaknat Yahudi dan Nashara yang telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”.
(Hadits shahih riwayat : Bukhari 2/106, Muslim 2/67, Ahmad 6/80,121,225
Diriwayatkan dari jalan Aisyah)

11. Dari Abi Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala, karena Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”.
(Hadits Shahih riwayat: Ahmad 2/246, Ibnu Sa’ad di kitabnya (Ath Thabaqaat 2/362), Abu Nu’aim di kitabnya (Al Hilyah 7/317)

12. Dari Jundub, ia berkata: Aku telah mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda lima hari (lagi) sebelum beliau wafat:...Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka dan orang-orang yang shalih di antara mereka sebagai masjid-masjid. Ketahuilah! Maka janganlah kamu menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari (mengerjakan) yang demikian itu”.
(Hadits shahih riwayat Imam Muslim juz 2 halaman 67,68)

13. Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya dari sejelek-jelek manusia ialah orang yang menemui kejadian kiamat sedangkan mereka masih hidup, dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid”.
(Hadits shahih riwayat: Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah, Thabrani di kitabnya Mu’jam Kabir, Abu Nu’aim dan Abu Ya’laa).

14. Dari Aisyah (ia berkata): Sesungguhnya Ummu Habibah dan Ummu Salamah ada menerangkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang gereja yang mereka lihat di negeri Habsyah yang di dalamnya terdapat sejumlah patung. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Sesungguhnya mereka itu, apabila di kalangan mereka orang yang shalih lalu mati, mereka membangun masjid di kuburnya lalu mereka buat patung di dalamnya mereka itulah sejelek-jelek mahluk di sisi Allah pada hari kiamat”.
(Hadits shahih riwayat : Bukhari 1/111, 112, Muslim 2/66,67, Ahmad 6/51, Ibnu Abi Syaibah 4/140, Baihaqy 4/80, dan Nasa’i).

Masih ada beberapa hadits yang inti isinya seperti hadits-hadits di atas.

Fiqh Hadits:
1. Berdalil dengan hadits-hadits di atas maka telah bersepakat para Ulama tentang haramnya mendirikan masjid di kubur dan shalat di masjid yang ada kubur.
Tentang ini tidak dibedakan, baik kubur lebih dahulu ada kemudian dibangun masjid di sekitarnya, maupun di sekitar masjid hukumnya sama saja yang pelakunya terkena laknat Allah Subhanahu Wata’ala. Dari itu tepatlah apa yang telah dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim:
“Maka tidaklah berkumpul/bersatu di dalam agama Islam masjid dan kubur”.

2. Hanya mereka berselisih/ihtilaf tentang sah atau tidaknya shalat di masjid yang ada kubur. Menurut Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan lain-lain shalatnya itu batal. (baca : Tahdzirus-Saajid halaman 43 dan 121 Al-Bani).

15. Dari Abi Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Janganlah kamu jadikan kuburku sebagai ‘IED (Tempat Perayaan), dan janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu sebagai kuburan. Di mana saja kamu berada bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kamu itu akan sampai kepadaku”. (hadits hasan riwayat: Ahmad 2/367 dan Abu Dawud no.2042).

Fiqh Hadits :
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang umatnya menjadikan kuburnya sebagai ‘IED yaitu didatangi pada waktu-waktu dan musim-musim tertentu dengan maksud beribadah di sisinya sehingga merupakan tempat berkumpul dan perayaan. Demikian akan menimbulkan permujaan terhadap kubur beliau. Dari sini dapat dipahami dengan jelas, tentu kuburan yang lebih utama mendapat larangan yang sangat keras untuk dijadikan ‘IED. Sekarang berapa banyak kubur (umumnya kuburan ulama) yang didatangi pada waktu-waktu dan musim-musim tertentu. Mereka bermohon di situ dan menjadikan penghuni kubur sebagai washilah/perantara lantaran mereka anggap penuh berkat dan keramat! Sesungguhnya ini suatu penyimpangan dari aqidah Islam yang bersih dari syirik terhadap penyembah kubur.

16. Dari Anas, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Tidak ada di dalam Islam penyembelihan di kubur”.
(hadits shahih riwayat: Ahmad 3/197, Abu Dawud no.3222, Baihaqy 4/57)

Fiqih Hadits:
Peringatan khaul yang sudah amat terkenal di Indonesia ialah: Upacara Ulang Tahun Kematian. Umumnya terhadap kuburan Ulama, para “wali shufi”, Habib-habib atau orang-orang tua sendiri dsb. Peringatan khaul itu mereka laksanakan di kubur si mayat bertepatan dengan tanggal/bulan wafatnya.
Dengan upacara sebagai berikut:
1. Mengadakan penyembelihan hewan di kubur.
2. Makan-makan di kubur.
3. Membaca ayat-ayat Allah (Al-Qur’an), tahlilan dan lain-lain bacaan yang pahalanya mereka persembahkan kepada si mayat.
4. Bertawasul kepada si mayat.
5. Mengambil “Berkah dan keramat” si mayat.
6. Beristighatsah (meminta pertolongan kepada si mayat untuk menghilangkan kemudlaratan/bahaya).

Upacara khaul itu mereka laksanakan sampai beberapa hari dan ada juga yang hanya seharian saja menurut kemampuan masing-masing. Upacara itu biasanya dipimpin langsung oleh seorang senior quburiyyun. Tentunya dengan mendapat “upah” yang lumayan sebagai penghasilan hidup dari hasil yang haram. Maka hukum upacara khaul itu terkena sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di atas. Dengan demikian sembelihan dan hidangan-hidangan yang mereka suguhkan itu tidak halal dimakan oleh orang Islam. Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda :
“Allah melaknat orang yang menyembelih bukan karena Allah”
(Riwayat Imam Muslim, Ahmad & Nasa’i dari jalan Ali)

Sumber : 25 Masalah Penting dalam Islam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s