Hadits-Hadits Dha’if Dan Maudhu’ Yang Banyak Beredar Pada Bulan Ramadhan

Hadits-Hadits Dha'if Dan Maudhu' Seputar RamadhanOleh

Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

 HADITS PERTAMA : TENTANG GANJARAN ORANG YANG MELAKSANAKAN IBADAH PUASA DAN SHALAT TARAWIH

عَنِ النَّضْرِ بْنِ شَيْبَانَ قَالَ لَقِيتُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقُلْتُ حَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ سَمِعْتَهُ مِنْ أَبِيكَ يَذْكُرُهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ قَالَ نَعَمْ حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَقَالَ شَهْرٌ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Dari Nadhir bin Syaiban, ia mengatakan, ‘Aku pernah bertemu dengan Abu Salamah bin Abdurrahman rahimahullah, aku mengatakan kepadanya, ‘Ceritakanlah kepadaku sebuah hadits yang pernah engkau dengar dari bapakmu (maksudnya Abdurraman bin ‘Auf Radhiyallahu ‘anhu) tentang Ramadhan.’ Ia mengatakan, ‘Ya, bapakku (maksudnya Abdurraman bin ‘Auf Radhiyallahu ‘anhu) pernah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut bulan Ramadhan lalu bersabda, ‘Bulan yang Allah Azza wa Jalla telah wajibkan atas kalian puasanya dan aku menyunahkan buat kalian shalat malamnya. Maka barangsiapa yang berpuasa dan melaksanakan shalat malam dengan dasar iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah Azza wa Jalla, niscaya dia akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana saat dia dilahirkan oleh ibunya”. [HR Ibnu Majah, no. 1328 dan Ibnu Khuzaimah, no. 2201 lewar jalur periwayatan Nadhr bin Syaiban]

Sanad hadits ini LEMAH, karena Nadhr bin Syaiban itu layyinul hadits (orang yang haditsnya lemah), sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitab Taqrib beliau rahimahullah.

Ibnu Khuzaimah rahimahullah juga telah menilai hadits ini lemah dan beliau rahimahullah mengatakan bahwa hadits yang SAH adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Hadits yang beliau rahimahullah maksudkan yaitu hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dan ulama hadits lainnya lewat jalur Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat (qiyam Ramadhan atau Tarawih) dengan dasar iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu”.

Juga ada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits SHAHIH riwayat Bukhari dan Muslim, yaitu :

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji dan tidak jima’ juga tidak fasiq, niscaya dia akan kembali seperti hari dia dilahirkan oleh sang ibu”. [HR. Bukhari dan Muslim]

HADITS KEDUA : TENTANG PUASA ITU SETENGAH DARI KESEHATAN

… وَالصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ وَالطُّهُورُ نِصْفُ الْإِيْمَانِ

“Puasa itu setengah kesabaran dan kesucian itu setengahnya iman”.

DHA’IF. Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 3519 dalam Kitab ad-Da’awat, juga diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad beliau rahimahullah (4/260 dan 5/363) lewat jalur periwayatan Juraisy an-Nahdy dari seorang laki-laki bani (suku) Sulaim.

Sanad hadits ini dha’if, karena Juraisy bin Kulaib ini adalah seorang yang majhul (tidak dikenal), sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Madini rahimahullah (lihat, Tahdzibut Tahdzib, 2/78 karya Ibnu Hajar rahimahullah).

HADITS DHA’IF lainnya yang senada yaitu :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصَّوْمُ , الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Segala sesuatu itu ada zakatnya. Zakat badan adalah puasa. Puasa itu separuh kesabaran.” [HR. Ibnu Mâjah, no. 1745 lewat jalur Musa bin Ubaidah dari Jumhân dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu]

Sanad hadits ini LEMAH, karena Musa bin Ubaidah dinilai haditsnya lemah oleh sekelompok ulama ahli hadits, sebagaimana dijelaskan dalam kitab TahdzIb, 10/318-320. Beliau ini seorang yang shalih dan ahli ibadah, akan tetapi lemah dalam periwayatan hadits.

Al-Hafizh dalam kitab Taqribnya mengatakan, “DHA’IF.”

Hadits yang SAH tentang hal ini adalah riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang lelaki dari suku Bahilah dalam hadits yang panjang, dalam hadits yang panjang tesrbut terdapat kalimat :

صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ رَمَضَانَ

“Berpuasalah pada bulan kesabaran yaitu Ramadhan”. [HR Imam Ahmad dengan sanad yang SHAHIH]

Hadits yang lain yaitu hadits yang diriwayatkan lewat jalur Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang bulan Ramadhan :

شَهْرَ الصَّبْرِ

“bulan kesabaran (Ramadhan)”.

Dikeluarkan oleh Imam Ahmad rahimahullah (2/263, 384 dan 513), juga dikeluarkan oleh Imam Nasa’i rahimahullah (3/218-219). Dan hadits lain lewat jalur periwayatan a’rabiyûn sebagaimana dalam Majma’uz Zawaid (3/196) oleh al Haitsami rahimahullah.

HADITS KETIGA : TENTANG RAMADHAN DIBAGI TIGA

أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ (وفي رواية : ووَسَطُهُ) مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“Awal bulan Ramadhan itu adalah rahmat, tengahnya adalah maghfirah (ampunan) dan akhirnya merupakan pembebasan dari api neraka”. [HR Ibnu Abi Dunya, Ibnu Asâkir, Dailami dan lain-lain lewat jalur periwayatan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu]

Hadits ini SANGAT LEMAH. Silahkan lihat kitab Dha’if Jami’is Shagir, no. 2134 dan Faidhul Qadir, no. 2815

HADITS LEMAH yang senada dengan hadits di atas yaitu :

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيّ قَالَ : خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً ، وَقِيَامَهُ تَطَوُّعًا ، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ …وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُه رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ …

“Dari Salman al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di hadapan kami pada hari terakhir bulan Sya’ban. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai manusia, sungguh bulan yang agung dan penuh barakah akan datang menaungi kalian, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang beribadah pada bulan tersebut dengan satu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang menunaikan satu kewajiban pada bulan itu, maka sama dengan menunaikan tujuh puluh ibadah wajib pada bulan yang lain. Itulah bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah surga …. Itulah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka …..”. [HR Ibnu Khuzaimah, no. 1887 dan lain-lain]

Sanad hadits ini DHA’IF (LEMAH), karena ada seorang perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jud’an. Orang ini seorang perawi yang lemah sebagaimana diterangkan oleh Imam Ahmad rahimahullah, Yahya rahimahullah, Bukhari rahimahullah, Daru Quthni rahimahullah, Abu Hatim rahimahullah dan lain-lain.

Ibnu Khuzaimah rahimahullah sendiri mengatakan, “Aku tidak menjadikannya sebagai hujjah karena hafalannya jelek.” Imam Abu Hatim rahimahullah mengatakan, “Hadits ini mungkar.”

Silahkan lihat kitab Silsilah ad-Dha’ifah Wal Maudhu’ah, no. 871, at-Targhib wat Tarhib, 2/94 dan Mizanul I’tidal, 3/127.

HADITS KEEMPAT : TENTANG TIDUR DAN DIAMNYA ORANG YANG BERPUASA

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلَى فِرَاشِهِ

“Orang yang berpuasa itu tetap dalam kondisi beribadah meskipun dia tidur di atas kasurnya”. [HR Tamam]

Sanad hadits ini DHA’IF, karena dalam sanadnya terdapat Yahya bin Abdullah bin Zujaj dan Muhammad bin Harun bin Muhammad bin Bakar bin Hilal. Kedua orang ini tidak ditemukan keterangan tentang jati diri mereka dalam kitab Jarh wat Ta’dil (yaitu kitab-kitab yang berisi keterangan tentang cela atau cacat ataupun pujian terhadap para rawi). Ditambah lagi, dalam sanad hadits ini terdapat perawi yang bernama Hasyim bin Abu Hurairah al Himshi. Dia seorang perawi yang majhul (tidak diketahui keadaan dirinya), sebagaimana dijelaskan oleh adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitab beliau rahimahullah Mizanul I’tidal. Imam Uqaili rahimahullah mengatakan, “Orang ini haditsnya mungkar.”

Ada juga hadits lain yang semakna dengan hadits di atas yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Dailami rahimahullah dalam kitab Musnad Firdaus lewat jalur Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu dengan lafazh :

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ نََائِمًا عَلَى فِرَاشِهِ

“Orang yang berpuasa itu tetap dalam ibadah meskipun dia tidur di atas kasurnya”.

Sanad hadits ini MAUDHU’ (PALSU), karena ada seorang perawi yang bernama Muhammad bin Ahmad bin Sahl. Orang ini termasuk pemalsu hadits, sebagaimana diterangkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab ad-Dhu’afa.

Silahkan, lihat kitab Silsilah ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah, no. 653 dan kitab Faidhul Qadir, no. 5125

Ada juga hadits lain yang semakna :

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصَمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ

“Tidurnya orang yang sedang berpuasa itu ibadah, diamnya merupakan tasbih, amal perbuatannya (akan dibalas) dengan berlipatganda, doa’nya mustajab dan dosanya diampuni”. [(Dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan lain-lain dari jalur periwayatan Abdullah bin Abi Aufa.]

Sanad hadits ini MAUDHU’, karena dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Sulaiman bin Amr an-Nakha’i, seorang pendusta. [Lihat, Faidhul Qadir, no. 9293, Silsilatud Dha’ifah, no. 4696]

HADITS KELIMA : TENTANG DO’A BUKA PUASA

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, beliau Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila hendak berbuka, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan :

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Wahai Allah! Untuk Mu kami berpuasa dan dengan rizki dari Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amalan kami ! Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Diriwayatkan oleh Daru Quthni t dalam kitab Sunan beliau rahimahullah, Ibnu Sunni dalam kitab ‘Amalul Yaumi wal Lailah, no. 473 dan Thabrani t dalam kitab al-Mu’jamul Kabir]

Sanad hadits ini SANGAT LEMAH (DHA’IFUN JIDDAN), karena :

Pertama : Ada seorang rawi yang bernama Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah. Orang ini adalah seorang rawi yang sangat lemah.

– Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Abdul Malik itu dha’if.”

– Imam Yahya rahimahullah, “Dia seorang pendusta (kadzdzab).”

– Sementara Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan, “Dia seorang pemalsu hadits.”

– Imam Sa’di mengatakan, “Dajjal (pendusta).”

– Imam Dzahabi rahimahullah, “Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits.”

– Ibnu Hatim mengatakan, “Matruk (orang yang riwayatnya ditinggalkan oleh para Ulama).”

Kedua : Dalam sanad hadits ini terdapat juga orang tua dari Abdul Malik yaitu Harun bin ‘Antarah. Dia ini seorang rawi yang diperselisihkan oleh para Ulama ahli hadits. Imam Daru Quthni rahimahullah menilainya lemah, sedangkan Ibni Hibban rahimahullah telang mengatakan, “Mungkarul hadits (orang yang haditsnya diingkari), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya.”

Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, Ibnu Hajar rahimahullah, al Haitsami rahimahullah dan Syaikh al-Albani rahimahullah dan lain-lain. Silahkan para pembaca melihat kitab-kitab ; Mizanul I’tidal (2/666), Majma’uz Zawa’id (3/156 oleh Imam Haitsami rahimahullah), Zaadul Ma’ad dalam kitab Shiyam oleh Imam Ibnul Qayyim dan Irwa’ul Ghalil (4/36-39 oleh Syaikh al-Albani rahimahullah)

Hadits DHA’IF lainnya tentang do’a berbuka yaitu :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ n كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, beliau Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila berbuka, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan :

بسم الله اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Dengan nama Allâh, Ya Allah karena Mu aku berpuasa dan dengan rizki dari Mu aku berbuka”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani rahimahullah dalam kitab al-Mu’jamus Shagir, hlm. 189 dan al-Mu’jam Ausath.

Sanad hadits ini LEMAH (DHA’IF), karena

Pertama : Dalam sanad hadits ini terdapat Ismail bin Amar al Bajali. Dia adalah seorang rawi yang LEMAH. Imam Dzahabi rahimahullah mengatakan dalam kitab adh-Dhu’afa, “Bukan hanya satu orang saja yang melemahkannya.”

Imam Ibnu ‘Adi rahimahullah mengatakan, “Orang ini sering membawakan hadits-hadits yang tidak boleh diikuti.”

Imam Ibnu Hatim rahimahullah mengatakan, “Orang ini lemah.”

Kedua : Dalam sanadnya terdapat Dawud bin az-Zibriqan. Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Orang ini lebih jelek daripada Ismail bin Amr al bajali.”

Sementara itu, Imam Abu Dawud rahimahullah, Abu Zur’ah rahimahullah dan Ibnu Hajar rahimahullah memasukkan orang ini ke golongan matruk (orang yang riwayatnya ditinggalkan oleh para Ulama ahli hadits).

Imam Ibnu ‘Adi mengatakan, “Biasanya apa yang diriwayatkan oleh orang ini tidak boleh diikuti.” (lihat, Mizanul I’tidal, 2/7)

Hadits Thabrani rahimahullah ini pernah dibawakan oleh Ustadz Abdul Qadir Hassan dalam risalah puasa, namun beliau tidak mengomentari derajatnya.

Masih tentang do’a berbuka, ada hadits DHA’IF lainnya yang senada yaitu :

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Dari Mu’adz bin Zuhrah, telah sampai kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak berbuka, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan :

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Ya Allah karena Mu aku berpuasa dan dengan rizki dari Mu aku berbuka”.

Hadits ini DHA’IF (LEMAH). Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 2358, al-Baihaqi, 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Sunni. Lafazh hadits ini sama dengan hadits sebelumnya, hanya beda dalam kalimat awalnya. Hadits ini lemah karena ada dua illah (penyebab) :

Pertama : Mursal [1]. Karena Mu’adz bin Zuhrah, seorang tabi’in bukan shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua : Juga karena Mu’adz bin Zuhrah ini seorang rawi yang majhul, tidak ada yang meriwayatkan hadits darinya selain Hushain bin Abdurrahman. Sementara Ibnu Abi Hatim rahimahullah dalam kitab beliau rahimahullah Jarh Wa Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan maupun pujian untuknya.

Sebatas yang saya ketahui, tidak ada satu riwayatpun yang sah tentang do’a berbuka puasa kecuali riwayat dibawah ini :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka puasa, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dahaga telah lenyap, urat-urat telah basah dan pahala atau ganjaran tetap ada insya Allah”

Hadits ini hasan riwayat Abu Dawud, no. 2357; Nasa’i, 1/66; Daru Quthni, ia mengatakan, “Sanad hadits ini HASAN.”; al Hakim, 1/422 dan Baihaqi, 4/239. Syaikh al-Albani t sepakat dengan penilai Daru Quthni terhadap hadits ini.

Sebatas yang saya ketahui, semua rawi (orang-orang yang meriwayatkan) hadits ini adalah tsiqah (terpercaya) kecuali Husain bin Waqid. Dia seorang rawi yang tsiqah namun memiliki sedikit kelemahan , sehingga tepatlah kalau sanad hadits ini dinilai HASAN.

HADITS KEENAM : TENTANG KEUTAMAAN I’TIKAF

مَنِ اعْتَكَفَ عَشْرًا فِي رَمَضَانَ كَانَ كَحَجَّتَيْنِ وَعُمْرَتَيْنِ

“Barangsiapa yang beri’tikaf pada sepuluh hari (terakhir) bulan Ramadhan, maka dia seperti telah menunaikan haji dan umrah dua kali”.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam kitab beliau Syu’abul Iman dari Husain bin Ali bin Thalib Radhiyallahu ‘anhuma. hadits ini MAUDHU’.

Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab beliau Dha’if Jami’ish Shaghiir, no. 5460, mengatakan ,“Maudhu’.” Kemudian beliau rahimahullah menjelaskan penyebab kepalsuan hadits ini dalam kitab beliau rahimahullah Silsilah ad-Dha’ifah, no. 518

Hadits DHA’IF lain yang hampir senada yaitu :

مَنِ اعْتَكَفَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang beri’tikaf atas dasar keimanan dan mengharapkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat”.

Hadits DHA’IF riwayat Dailami rahimahullah dalam Musnad Firdaus. Al-Munawi rahimahullah, dalam kitab beliau Faidhul Qadir, syarah Ja’mi’ Shaghir (6/74, no. 8480) mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat rawi yang tidak aku ketahui.”

HADITS KETUJUH : TENTANG BERANDAI-ANDAI RAMADHAN SEPANJANG TAHUN

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا (فِي ) رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنَ السَّنَةُ كٌلَّهَا

“Sekiranya manusia mengetahui apa yang ada pada buan Ramadhan, niscaya semua umatku berharap agar Ramadhan itu sepanjang tahun”.

MAUDHU’. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah rahimahullah, no. 1886 lewat jalur periwayatan Jarir bin Ayyub al Bajali, dari asy-Sya’bi dari Nafi’ bin Burdah, dari Abu Mas’ud al-Ghifari- ia mengatakan, “Suatu hari, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda , “(lalu beliau menyebutkan hadits di atas).

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah membawakan hadits di atas dalam kitab beliau rahimahullah al-Maudhu’at, 2/189 lewat jalur periwayatan Jarir bin Ayyub al Bajali dari Sya’bi dari Nafi’ bin Burdah dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu . kemudian beliau rahimahullah mengatakan, “Hadits ini MAUDHU’ (PALSU) dipalsukan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang tertuduh telah memalsukan hadits ini adalah Jarir bin Ayyub.

Yahya rahimahullah mengatakan, ‘Orang-orang ini tidak ada apa-apanya (laisa bi syai-in).’

Fadhl bin Dukain rahimahullah mengatakan, ‘Dia termasuk orang yang biasa memalsukan hadits.’

An-Nasa’i dan Daru Quthni rahimahullah mengatakan, ‘Matruk (orang yang haditsnya tidak dianggap).'”

Imam Syaukani rahimahullah dalam kitab al-Fawa-idul Majmu’ah Fil Ahaditsil Maudhu’ah, no. 254 mengomentari hadits di atas, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la rahimahullah lewat jalur Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu secara marfu. Hadits ini MAUDHU’ (PALSU). Kerusakannya ada pada Jarir bin Ayyub dan susunan lafazhnya merupakan susunan yang bisa dinilai oleh akal bahwa itu adalah hadits PALSU.

HADITS KEDELAPAN : TENTANG RAMADHAN BULAN TERBAIK BAGI KAUM MUSLIMIN

مَا أَتَى عَلَى الْمُسْلِمِينَ شَهْرٌ خَيْرٌ لَهُمْ مِنْ رَمَضَانَ وَلَا أَتَى عَلَى الْمُنَافِقِينَ شَهْرٌ شَرٌّ مِنْ رَمَضَانَ

“Tidak ada bulan yang datang kepada kaum Muslimin yang lebih baik daripada Ramadhan dan tidak datang kepada kaum Munafiqin bulan yang lebih buruk daripada bulan Ramadhan”.

Hadits ini DHA’IF. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah (2/330, Fathurrabbani, 9/231-232), Ibnu Khuzaimah, no. 1884 dan lain-lainnya. Semua riwayat ini melalui jalur periwayatan Katsir bin Zaid rahimahullah dari Amr bin Tamim dari bapaknya dari Abu Hurairah secara marfu’.

Al-Haitsami rahimahullah dalam kitabnya Majma’uz Zawâid, 3/140-141 mengatakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dan Thabrani rahimahullah dalam kitabnya al-Ausath dari Tamim dan aku tidak menemukan riwayat hidup Tamim.” Maksudnya Tamim (bapaknya Amr) seorang perawi yang majhul.

Dalam kitab Mizanul I’tidal, 3/249, adz Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Amr bin Tamim dari bapaknya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu tentang keutamaan bulan Ramadhan. Dan dari Amr, hadits ini diriwayatkan oleh Katsîr bin Zaid. Tentang Amr bin Tamim, Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, ‘Haditsnya perlu diteliti (Fi hadîtsihi nazhar).”

Ini adalah salah satu istilah Imam Bukhari dalam mengkritik dan menerangkan cacat perawi yang sangat halus akan tetapi makna dan maksudnya dalam sekali. Apabila Imam Bukhari mengatakan, “Fiihi nazhar atau fi haditsihi nazhar, maka perawi itu derajatnya LEMAH atau bahkan SANGAT LEMAH. “

HADITS KESEMBILAN : TENTANG MENGQADHA PUASA RAMADHAN DENGAN CARA BERTURUT-TURUT

مَنْ كَانَ عَلَيْهِ صَوْمُ رَمَضَانَ فَلْيَسْرُدْهُ وَلاَ يَقْطَعْهُ

“Barangsiapa yang memiliki tanggungan shaum (puasa) Ramadhan, maka hendaknya dia mengqadha’nya dengan cara berturut-turut dan tidak diputus-putus (selang-seling)”.

Hadits ini DHA’IF. Hadits ini diriwayatkan oleh Daru Quthni rahimahullah dalam sunannya, 2/191-192 dan al-Baihaqi dalam sunan beliau, 2/259 lewat jalur Abdurrahman bin Ibrahim al Qash dari ‘Ala bin Abdurrahman dari bapaknya dari Abu Hurairah (ia mengatakan), Rasulullah bersabda : (seperti hadits di atas).

Sanad hadits ini DHA’IF (LEMAH), karena Abdurrahman bin Ibrahim al Qash adalah seorang rawi yang DHA’IF (LEMAH).

Ad-Daaru Quthni rahimahullah mengatakan, “Abdurrahman bin Ibrahim al Qash adalah dha’îful hadits (orang yang haditsnya lemah).”

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya Talkhishul Habir ,2/260, no. 920 mengatakan, “Ibnu Abil Hatim telah menerangkan bahwa bapaknya yaitu Abu Hatim telah mengingkari hadits ini karena ada Abdurrahman.”

Al-Baihaqi rahimahullah mengatakan, “Dia (Abdurrahman bin Ibrahim al Qash) telah dinilai lemah oleh Ibnu Ma’in rahimahullah, Nasa’i rahimahullah dan Daru Quthni rahimahullah.”

Adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitab Mizanul I’tidal, 2/545, “Di antara hadits-hadits mungkarnya adalah ….. (kemudian beliau rahimahullah membawakan hadits di atas)

Ada juga hadits DHA’IF lainnya yang bertentangan dengan hadits DHA’IF di atas yaitu :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ فِى قَضَاءِ رَمَضَانَ : إِنْ شَاءَ فَرَّقَ وَإِنْ شَاءَ تَابَعَ

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang qadha’ Ramadhan, ‘Jika ia mau, dia bisa mengqadha’nya dengan dipisah-pisah (selang-seling) dan jika dia mau, dia juga bisa mengqadha’nya secara beturut-turut (tanpa diselang-seling)”.

Hadits ini DHA’IF. Hadits ini diriwayatkan oleh Daru Quthni rahimahullah, 2/193 lewat jalur periwayatan Sufyan bin Bisyr, ia mengatakan, ‘Kami telah diberitahu oleh Ali bin Mishar dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia mengatakan : (seperti hadits di atas)

Sebatas yang saya ketahui, sanad hadits ini DHA’IF karena Sufyan bin Bisyr adalah seorang perawi yang majhul, sebagaimana telah ditegaskan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah, karena beliau rahimahullah tidak mendapatkan riwayat hidupnya. Kemudian syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Ringkasnya, tidak ada satu pun hadits marfu’ yang sah yang menerangkan (mengqadha’ shaum Ramadhan) dengan selang-seling dan tidak juga berturut-turut. Pendapat yang lebih dekat (kepada kebenaran) ialah boleh mengqadha’ dengan cara keduanya, sebagaimana pendapat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. [Lihat Irwâ’ul Ghalîl, 4/97]

Demikianlah beberapa contoh hadits dha’if bahkan sebagiannya maudhu’ yang banyak beredar dan sering diulang-ulang penyampaiannya di atas mimbar pada bulan Ramadhan. Semoga naskah singkat ini bisa menjadi pengingat bagi kita untuk tidak lagi menjadikan hadits-hadits di atas sebagai hujjah dalam beramal. Cukuplah bagi kita dengan mengikuti hadits-hadits shahih atau hadits-hadits yang layak dijadikan sebagai hujjah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara mengamalkan hadits-hadits yang tsabit dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

_______

Footnote

[1]. Hadits mursal yaitu hadits yang diriwayatkan langsung dari rasulullah n oleh tabi’in tanpa perantara shahabat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s