Hukum Merayakan Hari Ibu

Hukum Merayakan Hari IbuHari Ibu (Mother’s Day)

Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronos, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret. [http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_ibu]

Sejarah Hari Ibu (Mother’s Day History)

Sejarah Hari Ibu adalah sudah berabad-abad lamanya dan kembali ke zaman Yunani kuno, yang diadakan perayaan untuk menghormati Rhea, ibunda para dewa. Orang-orang Kristen awal merayakan festival Ibu pada hari Minggu keempat Prapaskah untuk menghormati Maria, ibu Kristus. Menariknya, kemudian pada tatanan agama membentang liburan mencakup ke semua ibu, dan menamakannya sebagai Mothering Sunday. Kolonis Inggris yang menetap di Amerika menghentikan tradisi Mothering Sunday karena kurangnya waktu. Pada tahun 1872 Julia Ward Howe menyelenggarakan sehari untuk ibu-ibu yang didedikasikan untuk perdamaian. Ini adalah tengara dalam sejarah Hari Ibu.

Pada tahun 1907, Anna Jarvis M. (1864-1948), seorang guru sekolah Philadelphia, memulai sebuah gerakan untuk mendirikan Hari Ibu nasional untuk menghormati ibunya, Ann Maria Reeves Jarvis. Dia diminta bantuan ratusan legislator dan pengusaha terkemuka untuk membuat hari khusus untuk menghormati ibu. Memperhatikan Hari Ibu pertama adalah kebaktian gereja menghormati ibu Anna. Anna membagikan bunga favorit ibunya, inkarnasi putih, pada kesempatan itu karena mereka mewakili manisnya, kemurnian, dan kesabaran. Anna bekerja keras akhirnya terbayar di tahun 1914, ketika Presiden Woodrow Wilson memproklamirkan Minggu kedua bulan Mei sebagai hari libur nasional untuk menghormati ibu.

Perlahan-lahan dan secara bertahap hari Ibu menjadi sangat populer dan aktivitas memberikan hadiah meningkat. Semua komersialisasi hari ini membuat marah Ibu Anna saat ia percaya bahwa sentimen hari itu sedang dikorbankan dengan keserakahan dan keuntungan.

Terlepas dari kekhawatiran Jarvis, Hari Ibu telah berkembang di Amerika Serikat. Sebenarnya, hari Minggu kedua bulan Mei telah menjadi hari yang paling populer tahun ini. Meskipun Anna mungkin tidak bersama kita tapi hari Ibu hidup dan telah menyebar ke berbagai negara di dunia. Banyak negara di seluruh dunia merayakan Hari Ibu pada berbagai waktu selama setahun, tetapi beberapa seperti Denmark, Finlandia, Italia, Turki, Australia, dan Belgia juga merayakan Hari Ibu pada hari Minggu kedua bulan Mei.

Mothering Sunday
Orang-orang Kristen awal di Inggris merayakan festival Ibu pada hari Minggu keempat Prapaskah (pada 40 hari periode menjelang Paskah) untuk menghormati Maria, ibu Kristus. Menariknya, kemudian pada tatanan agama membentang liburan mencakup ke semua ibu, dan menamakannya sebagai Mothering Sunday. Orang yang bekerja keluar dari rumah mereka diharapkan untuk kembali ke gereja “ibu” (kekuatan spiritual yang memberi mereka kehidupan dan melindungi mereka dari bahaya). Ini juga menjadi kesempatan untuk reuni keluarga. [Diterjemahkan dari http://www.dayformothers.com/mothers-day-history/]

Hukum Merayakan Hari Ibu

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kebiasaan kami, pada setiap tahun merayakan hari khusus yang disebut dengan istilah hari ibu, yaitu pada tanggal 21 Maret (di Indonesia tanggal 22 Desember, Ed). Pada hari itu banyak orang yang merayakannya. Apakah ini halal atau haram. Dan apakah kita harus pula merayakannya dan memberikan hadiah-hadiah?

Jawaban:
Semua perayaan yang bertentangan dengan hari raya yang disyari’atkan adalah bid’ah dan tidak pernah dikenal pada masa para salafus shalih. Bisa jadi perayaan itu bermula dari non muslim, jika demikian, maka di samping itu bid’ah, juga berarti tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hari raya-hari raya yang disyari’atkan telah diketahui oleh kaum muslimin, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha serta hari raya mingguan (hari Jum’at). Selain yang tiga ini tidak ada hari raya lain dalam Islam. Semua hari raya selain itu ditolak kepada pelakunya dan bathil dalam hukum syari’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

“Artinya : Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.”[1]

Yakni ditolak dan tidak diterima di sisi Allah. Dalam lafazh lainnya disebutkan,

“Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.”[2]

Karena itu, maka tidak boleh merayakan hari yang disebutkan oleh penanya, yaitu yang disebutkan sebagai hari ibu, dan tidak boleh juga mengadakan sesuatu yang menunjukkan simbol perayaannya, seperti; menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan, memberikan hadiah-hadiah dan sebagainya.

Hendaknya setiap muslim merasa mulia dan bangga dengan agamanya serta merasa cukup dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya dalam agama yang lurus ini dan telah diridhai Allah untuk para hambahNya. Maka hendaknya tidak menambahi dan tidak mengurangi. Kemudian dari itu, hendaknya setiap muslim tidak menjadi pengekor yang menirukan setiap ajakan, bahkan seharusnya, dengan menjalankan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala, pribadinya menjadi panutan yang ditiru, bukan yang meniru, sehingga menjadi suri teladan dan bukan penjiplak, karena alhamdulillah, syari’at Allah itu sungguh sempurna dari segala sisinya, sebagaimana firmanNya,

“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. ” [Al-Ma’idah: 3]

Seorang ibu lebih berhak untuk senantiasa dihormati sepanjang tahun, daripada hanya satu hari itu saja, bahkan seorang ibu mempunyai hak terhadap anak-anaknya untuk dijaga dan dihormati serta dita’ati selama bukan dalam kemaksiatan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, di setiap waktu dan tempat.

Nur ‘ala Ad-Darb, Maktabah Adh-Dhiya’, hal. 34-35, Syaikh Ibnu Utsaimin.

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini Lc Penerbit Darul Haq] [http://almanhaj.or.id/content/845/slash/0]
__________
Foote Note
[1] HR. Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).
[2] Al-Bukhari menganggapnya mu’allaq dalam Al-Buyu’ dan Al-I’tisham. Imam Muslim menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s