Meludah Ke Arah Kiblat

no-spitting(Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVI)

Pertanyaan: 

Saya mau bertanya kepada Ustadz. Apakah benar kita tidak boleh meludah sambil menghadap kiblat? Syukron.

0852459xxxxx

Jawaban:

Memang ada larangan meludah ke arah kiblat, di antaranya sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ تَفَلَ تُجَاهَ الْقِبْلَةِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَفْلَتَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ

“Barangsiapa meludah ke arah kiblat,
maka ia akan datang pada hari Kiamat dengan diludahi di antara kedua matanya.”[1]

Demikian juga ada larangan membuang ingus ke arah kiblat, sebagaimana sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

يَجِيْءُ صَاحِبُ النَّخَامَةِ فِي الْقِبْلَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهِيَ فِي وَجَهِهِ

“Dibangkitkan orang yang mengeluarkan ingus ke arah kiblat pada hari Kiamat,
(dimana ingus itu) dikembalikan ke wajah orang tersebut.”[2]

Syaikh al-Albâni rahimahullâh dalam Silsilah al-Ahâdîts Shahîhah, no. 222 berkata, “Hadits itu mengandung tuntunan ajaran yang cukup penting. yaitu haramnya meludah atau membuang dahak ke arah kiblat secara mutlak, baik di masjid. mushalla. atau di tempat lain. Seperti yang dikatakan oleh ash-Shan’âni dalam Subulus-Salâm (I/230). Ash-Shan’âni menjelaskan, “Imam Nawawi rahimahullâh lebih yakin dengan larangan melakukan hal-hal tersebut dalam segala situasi, baik ketika shalat atau di luar itu, di masjid atau di tempat lain.”

Hadits yang menjelaskan larangan meludah ke arah kiblat pada waktu shalat juga banyak sekali. Di antaranya hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu dari Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَلَا يَبْصُقْ أَمَامَهُ فَإِنَّمَا يُنَاجِي اللَّهَ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ وَلَا عَنْ يَمِينِهِ فَإِنَّ عَنْ يَمِينِهِ مَلَكًا وَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ فَيَدْفِنُهَا

“Apabila salah seorang dari kalian berdiri shalat, maka janganlah ia meludah ke depannya,
karena dia sedang bermunajat kepada Allâh selama berada di tempat shalatnya
dan jangan juga ke kanannya, karena disebelah kanannya ada malaikat
dan hendaknya dia meludah ke kiri atau bawah kakinya lalu menimbunnya.”
(HR al-Bukhâri)

Demikian hukum meludah yang disampaikan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, semoga kita bisa berhati-hati dalam hal ini.

Wabillâhitaufiq.

[1] HR. Abu Dawud (3/425-Aunul Ma’bûd) dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahîh-nya. (332) melalui jalur Ibnu Khuzaimah rahimahullâh dari Jarir dari Abu Ishaq asy-Syaibani dari ‘Adi bin Tsabit dari Zur bin Hubaisy dari Hudzaifah bin al-Yaman dengan riwayat marfû. Syaikh al-Albâni rahimahullâh menshahihkannya dalam kitab Shahîh al-Jâmi’, 6160
[2] HR. al-Bazzâr dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhuma, dan Syaikh al-Albâni rahimahullâh menshahîhkannya dalam Shahîh al-Jâmi’, 2910
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s