Tanya Mengapa?

tanya mengapaMENGAPA SHOLAT SUBUH 2 RAKA’AT, MAGHRIB 3 RAKA’AT DAN LAINNYA 4 RAKA’AT?

Suatu hari, saya bertamu ke rumah salah seorang rektor satu universitas ternama di kota Jember. Mayoritas tamu undangan kala itu ialah dosen-dosen universitas tersebut. Seusai jamuan makan malam, dan pada sesi ramah tamah, pembicaraan berputar tentang urusan agama. Tak ayal lagi saya hanyut dalam pembicaraan dengan mereka.

Di tengah-tengah pembicaraan yang sedang asyik ada seseorang yang bertanya: maaf pak ustadz, saya ingin bertanya, namun saya berharap jawabannya yang ilmiyah dan bukan jawaban klasik. Pertanyaannya: MENGAPA SHOLAT SUBUH 2 RAKA’AT, MAGHRIB 3 RAKA’AT DAN LAINNYA 4 RAKA’AT?

Mendapat pertanyaan ini, saya hanya bisa jawab: ya demikian ini ajarannya, maka kita hanya bisa mengucapkan sami’na wa atha’na.

Betapa terkejutnya saya ketika penanya menimpali jawaban saya dengan berkata : oooo jawaban klasik, saya sudah sering dengar jawaban klasik semacam ini.

Mendengar komentar ini saya berkesimpulan bahwa penanya seorang yang terpengaruh dengan ilmu filsafat dan ternyata benar, menurut sang rektor ternyata dia master di bidang ilmu filsafat.

Akhirnya saya balik bertanya : ooo bapak mau jawaban yang kontemporer? Gampang sekali  dan saya akan buat tantangan kepada bapak. Kan bapak adalah seorang yang berpendidikan, sehingga layak membuat suatu penelitian ilmiyah. Dan karena masalah sholat nara sumbernya adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kebetulan beliau sudah mati, ada baiknya bila bapak mengadakan riset di alam kubur. Coba bapak temui Nabi di alam kubur, dengan cara mati dengan bunuh diri atau lainnya, lalu adakan wawancara dengan Beliau. Kalau sudah dapat jawaban, kembalilah ke alam dunia untuk kemudian membukukan hasil wawancara bapak dengan beliau. Kalau untuk pergi ke alam kubur bapak tidak punya dananya, saya siap mendanai/sebagai sponsor riset bapak. Toh untuk bisa sampai ke alam kubur paling-paling cuma butuh racun tikus atau sebilah pisau saja.

Mendengar tantangan saya rupanya bapak itu mulai merendah. Untuk semakin memberi pelajaran kepadanya saya tidak berhenti di sini. Saya kembali bertanya kepadanya: bapak kan seorang ilmuan, saya mau bertanya, saya mau tahu, mengapa jari-jemari bapak berbeda panjangnya, kok tidak sama panjang? Coba bapak uraikan dengan jawaban yang ilmiyah, bukan jawaban klasik.

Akhirnya bapak tersebut terdiam dan malu.

Selanjutnya saya memberi penekanan kepada yang hadir kala itu bahwa terlalu banyak hal yang ada di sekitar kita yang di luar kemampuan nalar manusia. Demikian Allah Subhanahu Wa Ta’ala tegaskan pada ayat berikut:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Mereka bertanya kepadamu tentang ar ruh. Katakanlah: “Bahwa ruh adalah urusa Tuhanku, sedangkan kalian tidaklah mendapatkan ilmu kecuali hanya sedikit.” (QS. Al-Isra’ : 85)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s