Menjadi Jelita dan Cantik Jiwa

menutup_aurat_bukan_membalut_auratSetiap wanita ingin tampil cantik, lelakipun senang memiliki istri jelita nan cantik. Dan Allah menjanjikan orang-orang beriman di akhirat kelak mendapatkan wanita bidadari al-kawaib,[1] cantik jelita, putih bersih, yang sopan, menundukkan pandangan matanya, Mereka bagaikan permata al-yakut dan al-marjan.

Kecantikan merupakan dambaan setiap wanita, lalu apakah kecantikan hakiki pada diri wanita? Apakah cantik yang sebenarnya itu mengoleskan pada wajah bedak, celak dan pewarna merah pada bibir? Atau apakah cantik itu menjadikan rambut berwarna dan meluruskannya? Atau apakah cantik itu menjadikan badan langsing? Ketidaktahuan akan makna kecantikan hakiki menjadikan wanita senantiasa berpikir untuk “menggambar” wajahnya, menghiasinya, hingga batas di antara mereka ada yang mencukur alisnya dan merubah wajahnya dengan berbagai operasi.

Hakikat Cantik

Seorang penyair menasehati putrinya, dan mengajarkan kepadanya tentang makna cantik, dia berkata :

ياَ ابْنَتِي إِنْ أَرَدْتِ آيَةَ حُسْنٍ

وَجَمَالاًيَزِيْنُ جِسْمًا وَعَقْلاَ

فَانْبِذِي عَادَة َالتَّبَرُّجِ نَبْذًا

فَجَمَالُ النُّفُوْسِ أَسْمَى وَأَعْلَى

Wahai putriku,

Jika engkau ingin kecantikan senantiasa menghiasi tubuh dan akalmu

Tinggalkanlah “at-Tabarruj”[2]

Karena cantik jiwa lebih tinggi nilainya[3]

WANITA BERIMAN NAN CANTIK JIWA

Sungguh kita bersyukur kepada Allah ta’ala, atas karunia agama Islam yang mengatur dan memberi petunjuk dalam segala memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Menunjuki kepada wanita yang beriman untuk mendapatkan kecantikan hakiki yang didambakannya.

Berikut ini beberapa hal yang menjadikan wanita cantik jiwa :

1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Wanita beriman nan cantik jiwa adalah wanita yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Allah ta’ala menyebutkan bagaimana seharusnya wanita beriman itu, dengan firman-Nya :

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“(Oleh karena itu) wanita yang shalihah[4] adalah yang taat[5] lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah.” (QS at-Tahrim : 5)

Dan Nabi bersabda :

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan adalah wanita shalihah.” (HR Muslim)

Saat Allah ta’ala memerintahkan para istri Nabi dan wanita beriman untuk berhijab mereka segera mengamalkannya dengan ketaatan, sebagaimana hadits ini :

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ : لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ : ( يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ) خَرَجَ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِنَّ الْغِرْبَانُ مِنَ السَّكِينَةِ ، وَعَلَيْهِنَّ أَكْسِيَةٌ سُودٌ يَلْبَسْنَهَا

Dari Ummu Salamah, ia berkata : Saat turun ayat ini [ Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya, QS al-Ahzab : 59], para wanita al-Anshar keluar di atas kepala mereka ada burung gagak lantaran ketenangan mereka,6 dan mereka mengenakan baju hitam. (HR Abu Daud 4101)

Mereka mengetahui bahwa perintah Allah dan Rasul-Nya wajib mereka laksanakan, dalam kisah Barirah (Budak wanita Aisyah radhiyallahuanha) yang dimerdekakan, lalu dia diberi pilihan apakah ingin tetap bersama suaminya yang juga budak, ataukah ingin berpisah setelah menjadi orang merdeka, terdapat pelajaran akan antusiasnya para sahabat untuk berusaha mengamalkan sabda Nabi.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ : مُغِيثٌ ، كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ خَلْفَهَا يَبْكِي وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ : “ يَا عَبَّاسُ ، أَلا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ ، وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا“. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “ لَوْ رَاجَعْتِهِ “ . قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، تَأْمُرُنِي؟ قَالَ : “إِنَّمَا أَنَا شَافِعٌ “ قَالَتْ : لاَ حَاجَةَ لِي فِيْهِ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma : Bahwasanya suami Barirah adalah budak hitam yang bernama Mughits. (Ibnu Abbas berkata) : “Aku melihat Mughits mengikuti Barirah di belakangnya sambil menangis, dan air matanya berlinang mengalir di jenggotnya.” Lalu Nabi berkata Abbas bin Abdul Mutthalib radhiyallahuanhu : Wahai Abbas, tidakkah engkau heran akan kecintaan Mughits terhadap Barirah, dan ketidaksukaan Barirah terhadap Mughits?” Lalu Nabi berkata (kepada Barirah) : Andai saja engkau kembali kepada Mughits.” Barirah berkata : Apakah engkau memerintahkanku wahai Rasulullah?” Nabi menjawab : Aku hanya membantu Mughits.” Barirah menjawab : “Aku tidak ingin kembali padanya.”(HR al-Bukhari : 5283)

Kita melihat, saat Nabi berkata pada Barirah : “Andai saja engkau kembali kepada Mughits.” Maka Barirah meminta kejelasan, apakah sabda Beliau itu adalah perintah atau bukan, karena jika perintah maka Barirah akan mentaatinya. Setelah dijawab bukan, maka dia memilih berpisah dengan Mughits.

Demikianlah generasi terbaik ini, mereka mengerti dan memahami bahwa mereka harus mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS al-Ahzab : 36)

2. Berbuat baik kepada kedua orang tua

Wanita yang memiliki kecantikan jiwa adalah wanita yang senantiasa beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Allah ta’ala berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan beribadahlah kepada Allah dan jangan mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orangtuamu. (QS an-Nisa : 36)

Sekalipun orangtuanya adalah seorang musyrik, berbuat baik pada mereka tetap diperintahkan .

Asma binti Abu Bakar ash-Shidiq berkata :

قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ قُرَيْشٍ إِذْ عَاهَدَهُمْ ، فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي ؟ ، قَالَ : “ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ “

“Ibuku pernah mendatangiku, dan dia seorang musyrik di masa perjanjian Quraisy[7] saat Nabi mengadakan perjanjian dengan mereka. Lalu aku meminta fatwa kepada Rasulullah, aku katakan : Wahai Rasulullah, ibuku mendatangiku, dan dia ar-Raghibah[8],apakah boleh aku menyambung tali silaturahmi kepadanya? Nabi menjawab : “Ya, sambunglah tali silaturahmi padanya.” (HR Muslim)

3. Berbuat baik kepada Suami

Memasak, mencuci, mengurusi urusan rumah, merasakan kepayahan karena berkorban untuk suami dan anak-anak, menyusui anak-anak, mendidik mereka, menjaga kehormatan jika suaminya tidak ada adalah kegiatan sehari-hari yang dijalani seorang wanita. Lalu amalan apa yang dapat memasukkan wanita ke surga?

A. Shalat lima waktu, puasa Ramadhan, menjaga kemaluan dan taat pada suami.

  • Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, ia berkata : Rasullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحصّنت فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

Jika seorang wanita menunaikan shalat wajib lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, mentaati suaminya, dia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR Ibnu Hibba, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami 660)

  • Nabi bersabda :

خَيْرٌ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Sebaik-baik wanita adalah, yang menyenangkan jika suami melihatnya, yang mentaati suami jika memerintahkannya, tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan hal yang tidak disukai suami.” (HR an-Nasai)

B. Penyayang kepada suami dan anak, banyak anak dan berusaha mencari keridhaan suami

  • Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

أَلا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ؟ الْوَدُودُ ، الْوَلُودُ ، الْعَئُودُ عَلَى زَوْجِهَا ، الَّتِي إِذَا آذَتْ ، أَوْ أُوذِيَتْ ، جَاءَتْ حَتَّى تَأْخُذَ بَيْدَ زَوْجِهَا ، ثُمَّ تَقُولُ : وَاللَّهِ لا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى “.

“Inginkah aku beritahu kepada kalian tentang istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga? Yang penyayang, yang banyak mempunyai anak, yang kembali kepada suaminya, yaitu jika mengganggu atau diganggu wanita itu datang menemui dan memegang tangan suaminya sambil berkata : Demi Allah, aku tidak dapat tenang hingga engkau ridha (wahai suamiku).” (Shahih al-Jami 2604)

  • Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

لَوْ كُنْتُ آمِرًا لِأَحَدِ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

Seandainya aku (diperbolehkan) memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada manusia lainnya, tentulah aku akan memerintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya.” (HR at-Tirmidzi, ash-Shahihah 3490)

C. Berjihad di Jalan Allah ta’ala.

Wanita cantik jiwa berusaha ikut memberikan andilnya dalam menegakkan al-Quran dan sunnah Nabi, dengan apa yang dimilikinya.

  • Dari Ummu Athiyah al-Anshariyah radhiyallahuanha, dia berkata :

غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ، أَخْلُفُهُمْ فِي رِحَالِهِمْ فَأَصْنَعُ لَهُمْ الطَّعَامَ وَأُدَاوِي الْجَرْحَى وَأَقُومُ عَلَى الْمَرْضَى.

Aku pernah ikut berperang bersama Rasulullah sebanyak tujuh kali, aku tinggal di perkemahan mereka, memasak makanan untuk mereka, mengobati pasukan yang terluka dan merawat orang-orang yang sakit.” [9]

  • Dari Abu Hazim[10] : bahwasanya dia mendengar Sahl bin Sa’id ditanya tentang luka yang diderita Rasulullah dalam perang Uhud, lalu dia menjawab :

جُرِحَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ، وَهُشِمَتْ الْبَيْضَةُ عَلَى رَأْسِهِ، فَكَانَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَغْسِلُ الدَّمَ، وَكَانَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ يَسْكُبُ عَلَيْهَا بِالْمِجَنِّ، فَلَمَّا رَأَتْ فَاطِمَةُ أَنَّ الْمَاءَ لاَ يَزِيدُ الدَّمَ إِلاّ كَثْرَةً، أَخَذَتْ قِطْعَةَ حَصِيرٍ فَأَحْرَقَتْهُ حَتَّى صَارَ رَمَادًا، ثُمَّ أَلْصَقَتْهُ بِالْجُرْحِ فَاسْتَمْسَكَ الدَّمُ.

Rasulullah terluka wajahnya, dan gigi taringnya patah, dan topi baja yang beliau pakai pecah. Dan Fatimah binti Rasulullah membersihkan darah beliau, sedangkan Ali menuangkan air dengan perisai. Ketika Fatimah melihat, bahwa air tidak membersihkan darah melainkan semakin menyebabkan darah banyak keluar, diapun mengambil potongan tikar usang[11] lalu membakarnya hingga menjadi abu, kemudian diletakkannya di atas luka, hingga darahnya berhenti keluar.”[12]

Demikianlah para sahabat wanita membantu memasak, mengobati yang luka dalam pertempuran. Jiwa mereka adalah pejuang-pejuang agama Islam.

Tentunya sifat-sifat mulia yang dimiliki wanita beriman nan cantik jiwa masih banyak lagi, tidak terbatas dalam hal di atas. Semoga Allah ta’ala menjadikan wanita muslimah di negeri kita sebagai wanita yang memiliki kecantikan jiwa dengan perangai dan akhlaknya yang mulia, yang nantinya akan melahirkan generasi-generasi yang beriman dan bertakwa, amin.

Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, serta yang meniti jalan mereka dengan baik hingga hari kiamat

Disusun oleh : Hamba yang membutuhkan ampunan-Nya, Abu Hasan Arif

——————————–
[1] Gadis yang cantik, berisi dan padat. Taisir al-Karim ar-Rahman karya as-Sa’di (Tafsir as-Sa’di)
[2] at-Tabbaruj : Menampakkan perhiasan dan kecantikan kepada lelaki yang bukan mahram. (Tafsir al-Baghawi, tafsir surat al-Ahzab : 33)
[3] Syair dari penyair Ali al-Jarim, penyair Mesir lulus di Universitas al-Azhar dan Darul Ulum
[4] Shalihah dalam agama mereka, taat kepada suami mereka, menjaga diri dan harta bagi suami mereka. (Tafsir ath-Thabari)
[5] Kepada Allah dan suami mereka (Tafsir at-Thaba
[6] Kerudung-kerudung mereka yang berwarna hitam di serupakan dengan burung gagak. (Aunul Ma’bud, syarah Sunan Abu Daud)
[7] Yaitu masa antara perjanjian Hudaibiyah dan penaklukan Mekkah
[8] Al-Imam An-Nawawi berkata : ada yang berpendapat maknanya adalah benci (ar-Raghibah) kepada Islam, ada juga yang berpendapat sangat ingin (ar-Raghibah) mendapatkan pemberianku. Ibu Asma namanya adalah Qailah binti Abduluzza al-Quraisiyyah al-Amiriyyah. Para ulama berbeda pendapat apakah dia masuk Islam atau mati dalam kekufuran. Namun mayoritas berpendapat dia mati dalam keadaan musyrik.
[9] HR Muslim 1812, Abu Daud 2729, Ibnu Majah 2856

[10] Syarah Shahih Muslim an-Nawawi 4618

[11] Fathul Mun’im Syarah Shahih Muslim.

[12] HR Muslim 1790, al-Bukhari 2903, Ibnu Majah 3463

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s