Islam Adalah Satu-satunya Agama yang Benar (3/3)

makkahMaka kesimpulannya adalah:

1. Seluruh kaum muslimin yang telah bersyahadat: ‘Asyhadu ‘al-la ilaaha illallåh, wa ‘asyhadu ‘anna muhammadur råsulu-llah” wajib menolak propaganda penyatuan agama, yang telah diselewengkan dan dihapus dengan agama Islam yang haq, muhkam (jelas), terpelihara dari penyelewengan dan penukaran serta sebagai penghapus agama sebelumnnya.

Ini merupakan prinsip yang paling mendasar dalam agama Islam. Propaganda penyatuan agama itu termasuk kekufuran, kemunafikan , pemecah belah persatuan dan termasuk usaha memurtadkan kaum muslimin dari agama Islam.

2. Segenap umat manusia wajib meyakini bahwa agama yang diturunkan Allåh dan diserukan kepada Nabi dan Råsul adalah satu, yaitu seruan terhadap tauhid, iman kepada kenabian dan hari akhir.

Allåh (ﷻ) berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ | ٢١:٢٥

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berhak untuk disembah) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (Al-ambiyaa’: 25)

Allåh (ﷻ) juga berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ | ١٦:٣٦

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (sesembahan yang lain) itu” (An-Nahl 36)

3. Segenap penduduk bumi wajib meyakini bahwa syari’at para Nabi dan Rasul berbeda-beda, dan syari’at Islam adalah syari’at penutup dan penghapus syari’at sebelumnya, tidak ada seorang makhluk pun yang boleh beribadah kepada Allåh (ﷻ), melainkan harus sesuai dengan syari’at Islam (yang dibawa Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam) atau dengan kata lain, setiap orang harus beribadah kepada Allåh sesuai dengan syari’at Islam.

4. Segenap penduduk bumi dari kalangan ahli kitab, Yahudi dan Nashråni, maupun lainnya, wajib untuk segera memeluk Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat dan beriman kepada seluruh ajaran Islam yang bersifat global maupun terperinci, mengamalkannya, mengikutinya dan meninggalkan syari’at-syari’at selainnya yang telah menyimpang, serta meninggalkan kitab-kitab yang dinisbatkan kepada syari’at tersebut.

5. Barangsiapa yang menolak masuk ke dalam agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad (ﷺ) maka ia kafir, musyrik.

Setiap muslim wajib meyakini kekufuran setiap orang yang menolak agama Islam dari kalangan Yahudi, Nashråni, dan lainnya. Wajib menamainya kafir, dan meyakini bahwa ia adalah musuh Allåh dan meyakini bahwa orang kafir yang mati dalam kekafirannya adalah penghuni neraka dan kekal di dalamnya selama-lamanya.

Allåh (ﷻ) berfirman,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ | ٣:٧٠

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)” (‘Ali ‘Imråån: 70)

Orang yang tidak memeluk agama Islam dan mati dalam kekafiran atau masuk Islam kemudian murtad dan mati dalam keadaan kafir, maka ia akan berada di Neraka selama-lamanya di akhirat kelak. Neraka merupakan sejelek-jelek tempat kembali dan mereka kekal di dalamnya. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam kitab suci yang mulia:

Allåh (ﷻ) berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ | ٩٨:٦

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah: 6)

Allåh (ﷻ) berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ | ٣:٩١

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (‘Ali ‘Imråån: 91)

Allåh (ﷻ) berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٥:٣٦ | يُرِيدُونَ أَنْ يَخْرُجُوا مِنَ النَّارِ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنْهَا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ | ٥:٣٧

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang kekal.” (Al-Maa-idah: 36-37)

Allåh (ﷻ) berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ |٧:١٧٩

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’rååf: 179)

Råsulullåh (ﷺ) bersabda, yang artinya:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.

“Demi Råbb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nashråni yang mendengar diutusnya aku (Muhammad), lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penguhi neraka”

(HR. Muslim no. 154 (240) dari Shåhabat Abu Hurråiråh rådhiyallåhu ‘anhu)

Sebagai ilustrasi dan gambaran yang sangat mudah untuk kita pahami adalah sosok Abu Thålib, seorang yang telah mencurahkan harta, kedudukan dan jiwanya untuk membela Islam, namun meninggal dunia dalam keadaan kafir, sehingga Allåh (ﷻ) tetap menempatkan dirinya di Neraka.

Dalam sebuah hadits, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththålib rådhiyallåhu ‘anhu bertanya kepada Råsulullåh (ﷺ), “Wahai Råsulullåh, apakah engkau dapat memberikan manfaat(syafa’at) kepada Abu Thålib, karena sesungguhnya ia membantumu dan marah (karena membela)mu? Råsulullåh (ﷺ) menjawab, ” Ya, ia ditempatkan di Neraka paling atas. Dan kalaulah bukan karena (syafa’at)ku, maka ia pasti berada di kerak Neraka yang paling dalam.

(HR. Bukhåri no. 3883 dan Muslim no. 209 (357))

Dalam hadits yang lainnya dari Abu Sa’id al-Khudriy Radhiyallahu anhu,

“Bahwasanya pernah dibicarakan di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pamannya, Abu Thalib, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ. فَيُجْعَلُ فِيْ ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِى مِنْهُ دِمَاغُهُ.

“Mudah-mudahan akan bermanfaat syafa’atku nanti pada hari Kiamat, maka ia (Abu Thalib) mendapat (siksa yang paling ringan) di Neraka paling atas yaitu dimasukkan kedua mata kakinya ke Neraka dan (karena sebab itu) otaknya mendidih.”

[HR. Al-Bukhari (no. 3885) dan Muslim (no. 210 (360)), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu]

Demikian pula dengan Ibnu Jud’an, seorang yang banyak menolong kaum Muslimin, membantu fakir miskin, namun semuanya tidak mendatangkan manfa’at disisi Allåh (ﷻ) sedikutpun, karena belum mengucapkan syahadat.

Amal-amal perbuatan baik yang dilakukan orang kafir di dunia, kelak di akhirat akan Allåh jadikan seperti debu yang beterbangan, tidak ada nilainya di sisi Allåh:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا | ٢٥:٢٣

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (Al-Furqåån: 23)

Sebagai catatan penting, walaupun mereka kafir, kita tetap berbuat adil terhadap mereka dan tidak boleh menzhåliminya. Kalau mereka kafir dzimmi (yang mendapat perlindungan dari pemerintahan Islam), atau mu’ahad (mengadakan perjanjian dengan pemerintahan Islam), atau musta’man (mendapat perlindungan keamanan dari pemerintahan Islam), maka mereka tidak boleh dibunuh. Kecuali kafir harbi (memerangi kaum muslimin) maka mereka boleh diperangi dan dibunuh.

Allåh (ﷻ) berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ٦٠:٨ | إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ | ٦٠:٩

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Mumtahanah: 8-9)

6. Kaum muslimin sebagai umat istijabah dan ahli qiblat wajib meyakini bahwa mereka berada di atas kebenaran berada di atas agama yang haq, serta wajib pula meyakini bahwa Islam agama terakhir, Al-Qur’an sebagai kitab sucinya adalah kitab suci yang terakhir (yang telah sempurna, bukan makhluk (tapi kalamullåh) sebagai standar kitab-kitab sebelumnya. Råsul mereka, Muhammad bin ‘Abdillah (ﷺ) adalah Råsul terakhir dan Råsul penutup. Syari’at mereka adalah (syari’at yang menyempurnakan) dan menghapus syari’at sebelumnya.

Allåh tidak menerima agama lain dari seorang hamba-Nya selain Islam. Kaum Muslimin adalah pengemban syari’at Ilahi, syari’at penutup (yang sempurna) dan terpelihara dari pernyimpangan yang terjadi pada syari’at sebelumnya.

7. Kaum Muslimin sebagai umat istijabah wajib menyampaikan dakwah kepada segenap ummat, kepada seluruh manusia, termasuk orang-orang kafir, Yahudi, Nashråni maupun lainnya. Kaum Muslimin wajib mengajak mereka kepada agama Islam sehingga mereka memeluk agama ini.

Allåh (ﷻ) berfirman,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ | ٢٥:٢٣

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) (yakni bersatu di atas kalimat tauhid) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (‘Ali ‘Imråån: 64)

8. Setiap Muslim yang mengimani Allåh sebagai Råbbnya, Islam sebagai agamanya, Muhammad (ﷺ) sebagai Nabi dan Råsul-Nya, wajib menta’ati Allåh dengan membenci kekafiran orang-orang Yahudi, Nashråni dan kaum kafir lainnya. Wajib memusuhi mereka karena Allåh, tidak mencintai dan mengasihi mereka, tidak loyal dan tidak menyerahkan urusan kepada mereka hingga mereka beriman kepada Allåh semata, memeluk Islam sebagai agama mereka dan beriman kepada Muhammad (ﷺ) sebagai Nabi dan Råsul mereka.

Allåh (ﷻ) berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ | ٥:٥١

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maa-idah: 51)

9. Kaum Muslimin tidak boleh berteman akrab dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani dan orang kafir lainnya tidak boleh menjadikan mereka sebagai pemimpin.

Allåh (ﷻ) berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَنَ | ٣:١١٨

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (‘Ali ‘Imråån: 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ | ٥:٥٧

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (Al-Maa-idah: 57)

Umat Islam harus loyal kepada Allåh, Råsul-Nya (ﷺ) dan orang-orang beriman yang mendirikan shålat, menunaikan zakat dan tunduk kepada Allåh.

Sebagaimana dalam firman Allåh:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ | ٥:٥٥ | يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ | ٥:٥٦

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maa-idah: 55-56)

10. (Kaum Muslimin wajib mencontohi) sifat dan sikap Råsulullåh (ﷺ) dan para shåhabatnya ridwanullåh ‘alaihim jami’an terhadap orang kuffar yang disebutkan dalam Tauråt dan Injil.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا | ٤٨:٢٩

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia (para shåhabat) adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Fath: 29)

Di antara bukti terputusnya wala’ (loyalitas) antara kita dengan kuffar adalah tidak adanya waris mewarisi antara muslim dan kafir selama-lamanya.

Råsulullåh (ﷺ) bersabda, yang artinya,

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ j لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلاَ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ.

“Seorang muslim tidak mewarisi (harta) orang kafir dan seorang kafir tidak pula mewarisi (harta) seorang muslim”

(HR. Al-Bukhåri no. 6764, Muslim no. 1614, Abu Dawud 2909, at-Tirmidzi no. 2107, ad-Darimi II/370, Ibnu Mahaj no. 2729, dan Ahmad V/200,202,208,209, dari Usamah bin Zaid Rådhiyallåhu ‘anhumaa)

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 4]

Repost dari http://abuzuhriy.com/islam-satu-satunya-agama-yang-benar-3/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s