Alamat Palsu

Ikhlas_dan_Ittiba'AGAR IBADAH & AMAL TIDAK SIA-SIA

Oleh : Ustadz Abdullah Zaen, Lc. M.A – Alumnus Universitas Islam Madinah Saudi Arabia.

Pernahkah Anda menulis surat? Berapa lembar surat yang Anda tulis? Kemudian jauhkah alamat yang Anda tuju?

Anda mungkin pernah menulis 10 lembar misalnya kepada seorang teman lama Anda. Karena Anda begitu rindu dengan dia, Anda curahkan seluruh isi hati Anda. Kemudian karena Anda pengen cepat surat itu sampai, Anda menggunakan jasa pengiriman kilat khusus, kalau perlu ada yang double kilat khusus.

Setelah Anda tunggu sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, ternyata ga ada balasan, sebulan ga ada balasan. Ketika di cek ke jasa pengiriman ternyata suratnya balik, alias alamat yang Anda tulis salah, atau dengan kata lain alamat yang Anda tulis adalah alamat palsu.

Bagaimana perasaan Anda? Kecewa, kesal, atau bagaimana? Alamat palsu..

Kalau kita yang ngirim surat kemudian alamat yang kita tulis ternyata salah, maka surat itu ga nyampe. Karena apa? Karena alamatnya yang salah.

Kalau kita beribadah sama Allah, kita pengen nyampe ibadah itu sama Allah, kita pengen agar ibadah itu diterima sama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi sadarkah kita, bahwa tidak setiap ibadah yang kita lakukan itu akan sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak setiap amalan yang kita kerjakan itu akan diterima sama Allah ‘Azza wa Jalla. Sadarkah kita akan hal itu?

Kalau kita salah cara dalam beribadah, ibadah itu ga akan nyampe sama Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak akan diterima sama Allah ‘Azza wa Jalla.

“Ustadz kok mengatakan seperti itu… Masalah diterima atau tidaknya ibadah kan terserah Allah…”

Sebagaimana yang sering disampaikan oleh sebagian orang, ketika mereka mengatakan..
“Udahlah ga usah mengkritik amal ibadah orang lain, toh kamu juga belum tentu amal ibadah kamu diterima sama Allah. Masalah diterima tidaknya amalan seorang hamba itu kembali kepada hak prerogatif (tunggal) Allah. Kita hanya bisa berusaha, jadi ga usahlah kamu itu mengkritik amalan yang dilakukan oleh orang lain”.

Kita katakan..
Oke kalau masalah diterima tidaknya suatu amalan, itu memang betul hak prerogatif Allah. Tapi jangan lupa, kita perlu berusaha dengan segala daya yang kita miliki bagaimana caranya supaya amalan kita diterima sama Allah ‘Azza wa Jalla. Jadi kita beramal itu tidak asal, tidak sekehendak kita, semau enak kita semau perut kita, tidak…

Karena ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menggariskan adanya ibadah A, B, C, D. Allah juga menggariskan tata cara yang mesti diikuti oleh seorang hamba supaya ibadah A, B, C, D, tadi diterima sama Allah ‘Azza wa Jalla.

Contoh..
Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan shalat, apakah kemudian ketika Allah mewajibkan shalat, Allah membiarkan kita berkreasi shalat sekehendak kita sendiri? Apakah seperti itu? Apakah Allah ketika mewajibkan kita untuk berpuasa, kemudian Allah meninggalkan perintah atau tata cara tidak memperdulikan tata cara berpuasa, berpuasa semaunya sendiri? Apakah kemudian ketika kita berpuasa, yah silahkan berkreasi mau puasa apa saja terserah. Mau bikin puasa patih geni, puasa ngebleng, puasa ngelowong, puasa ngidang atau puasa mutih terserah, apakah seperti itu? Tidak…

Ini yang perlu kita ingat, kalau kita ingin ibadah kita diterima, ikuti aturan, aturan yang sudah digariskan oleh Agama kita, tidak semau sendiri.

“Waahh kita harus kreatif donk”.. Kreatif dalam hal apa? “Kita harus berinovasi donk”.. Inovasi dalam hal apa? Inovasi dalam perkara dunia, oke silahkan. Anda ingin berinovasi dalan perkara dunia itu bagus, selama tidak menabrak rambu-rambu Agama kita.

Tapi berinovasi dalam perkara Agama, tidak bisa diterima. Kenapa? Karena kita sebagai seorang Muslim dituntut untuk ‘Sami’naa wa Atho’naa – Kamu dengar Kami taat. Mengikuti apa yang sudah digariskan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perkara ibadah. Makanya beliau mewanti-wanti dalam sebuah hadits yang Shohih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dariku, amalannya akan ditolak”

Percuma dia beramal. Ini syarat yang pertama, yang perlu kita penuhi kalau kita ingin amalan kita diterima sama Allah..

Syarat yang kedua adalah apa yang disebutkan oleh Allah dalam baaanyak ayat di Al Qur’an, diantaranya dalam surat Al Bayyinah ayat 5, kata Allah Subahanahu wa Ta’ala :

ومآ أمروٓا إلاّ ليعبدوا الله مخلصين له الدين

Kita itu tidak diperintahkan sama Allah kecuali untuk mengikhlaskan ibadah kita hanya untuk-Nya, alias ikhlas dalam beribadah.

Dua syarat, ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kalau Anda pengen amalan Anda diterima sama Allah ‘Azza wa Jalla. Selamat mencoba dan selamat mengikuti serta memenuhi dua syarat tersebut disetiap ibadah yang kita lakukan.

Ikhlas semata karna Allah, yang kedua cari betul apakah ada tuntunannya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau tidak, dan berusaha sedetail mungkin dalam beribadah. Semoga amal ibadah kita diterima sama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallaahu Ta’ala A’lam..

Ditulis ulang oleh Sofian Hadi Ishaq – Mahasiswa STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, kedua orangtuanya, dan seluruh kaum muslimin.

Sumber asli diambil dari video Ceramah Singkat YufidTV , http://www.youtube.com/watch?v=rk5-VKk7A5Y

Iklan

One comment on “Alamat Palsu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s