Ahlul Bait dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

cinta-ahlul-baitAHLU BAIT DALAM PANDANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

 Oleh : Ust. Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah, Lc. M.H.I

(Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)

Segala puji hanya milik Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan kita bertaubat kepada-Nya. Kita pun berlindung kepada Allah dari keburukan-keburukan jiwa, dan dari kejelekan-kejelekan perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk kepadanya, maka tidak ada seorang pun yang mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya.

Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada nabi kita Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya sampai yaumil qiyamah. Amma ba’du.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى

“Aku ingatkan kalian kepada Allah akan hak-hak ahli baitku (keluargaku).” (HR. Muslim no. 6378)

Bertolak dari hadits inilah, kami goreskan pena ini untuk mengenal lebih jauh siapakah ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Agar dengannya kita bisa lebih mencintai mereka, menyelami kehidupan mereka dan meneladani budi pekerti mereka.

A.      SIAPAKAH AHLU BAIT NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Yang dimaksud ahli bait dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah semua kerabat nabi yang diharamkan atas mereka untuk menerima sedekah, mereka adalah para istri nabi dan anak cucu beliau, dan setiap muslim dan muslimah yang berasal dari nasab keturunan bani Hasyim dan bani Muththalib.

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr hafidzahullah berkata:

القولُ الصَّحِيْحُ فِيْ المُرَادِ بِآلِ بَيْتِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – هُمْ مَنَ تَحْرُمُ عَلَيْهِمْ الصَّدَقَةُ، وَهُمْ أزوَاجُهُ وَذُرِّيَّتُهُ، وَكُلُّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ مِنْ نَسْلِ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ، وَهُمْ بنُوْ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ

“Pendapat yang shahih tentang maksud dari ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka (kerabat nabi) yang diharamkan memakan harta sedekah, yaitu para istri nabi dan anak cucu beliau, dan setiap muslim laki-laki maupun wanita dari keturunan Abdul Muththalib, mereka adalah anak keturunan Hasyim bin Abdi Manaf.”[1]

Sebagian para ulama, di antaranya al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menambahkan bani Muththalib[2] (saudaranya Hasyim) ke dalam ahli bait karena bani Hasyim dan bani Muththalib itu satu (tidak terpisahkan baik di kala jahiliyah maupun Islam).[3]

Al-Imam Muslim rahimahullah menulis sebuah bab dalam kitab shahih beliau:

“بَابُ تَحْرِيمِ الزَّكَاةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَعَلَى آلِهِ وَهُمْ بَنُوْ هَاشِمٍ وَبَنُوْ الْمُطَّلِبِ دُوْنَ غَيْرِهِمْ”

“Bab: Tentang haramnya zakat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para keluarganya yaitu Banu Hasyim dan Banu Muththalib, tidak diharamkan selain mereka.”[4]

Dari keterangan di atas bisa diperinci bahwa ahli bait nabi adalah sebagai berikut:

1.     Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Adapun nama istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pendapat yang masyhur adalah sebagai berikut:

1). Khadijah binti Khuwailid

2). Saudah binti Zam’ah

3). Aisyah binti Abu Bakar ash-Siddiq

4). Hafshah binti Umar bin Khaththab

5). Zainab binti Khuzaimah

6). Ummu Salamah Hindun Binti Abi Umayyah

7). Zainab binti Jahsy

8). Juwairiyyah binti al-Harits

9). Shafiyah binti Huyay Bin Akhthab

10). Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan

11). Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah[5] radhiyallahu ‘anhunna jami’an

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk Ahli bait adalah Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِير

“Dan hendaklah kalian (para isteri nabi) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan tidak ada keraguan bagi orang yang mentadabburi al-Qur’an, bahwa istri-istri rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam Firman Allah ta’ala di atas.”[6]

2.     Putra-putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Putra-putri Rasulullah shallallahu ‘‘alaihi wa sallam ada tujuh orang, tiga laki-laki dan empat perempuan:

1). Al-Qasim, dari nama inilah nabi dipanggil kunyahnya, sehingga nabi dipanggil dengan sebutan Abul Qasim.

2). Abdullah, beliau diberi julukan at-Thahir dan at-Thayyib.

3). Ibrahim, beliau adalah anak nabi yang paling kecil.

4). Zainab

5). Ruqayyah

6). Ummu Kultsum

7). Fathimah

Semua anak-anak nabi lahir dari rahim Khadijah kecuali Ibrahim, beliau terlahir dari budak nabi Mariyah al-Qibtiyyah semoga Allah meridhai mereka semua.[7]

3.     Cucu-cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari putri-putri beliau, rasulullah mempunyai beberapa cucu, yaitu:

1). Umamah (anak Zainab binti rasul dengan suaminya Abil Ash bin Rabi’)

2). Ali (anak Zainab binti Rasulullah dengan suaminya Abil Ash bin Rabi’), meninggal waktu kecil.

3). Abdullah (anak Ruqayyah binti rasulullah dengan suaminya Utsman bin Affan)

4). Hasan (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib) dan keturunannya.

5). Husain (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib) dan keturunannya.[8]

6). Muhsin (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib), meninggal waktu kecil.

7). Ummu Kultsum (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib

8). Zainab (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib)[9] radhiyallahu anhum jami’an

4.       Keturunan bani Hasyim

Keturunan bani Hasyim sangatlah banyak, di antaranya adalah:

  1. Hamzah bin Abdul Muththalib bin Hasyim dan keturunannya, di antaranya tiga orang anaknya yaitu Ya’la, ‘Imarah, dan Umamah
  2. Abbas bin Abdul Muththalib bin Hasyim dan keturunannya, di antaranya Abdullah ibnu Abbas dan Fadhl bin Abbas
  3. Keturunan Harits bin Abdul Muththalib bin Hasyim, seperti Abu Sufyan bin al-Harits dan keturunannya.
  4. Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dan keturunannya meskipun selain dari rahim Fathimah seperti Muhammad bin al-Hanafiyah.
  5. Ja’far bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dan keturunannya, seperti: Muhammad, Aun dan Abdullah bin Ja’far.
  6. Aqil bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dan keturunannya.
  7. Keluarga Abu Lahab bin Abdul Muththalib bin Hasyim yang masuk Islam, seperti anaknya abu Lahab yang bernama: Utbah dan Mut’ib beserta keturunannya.
  8. Shafiyyah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Radhiyallahu ‘anhum jami’an
  9. Dan lain-lain.[10]

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa anak-anak dari paman-paman nabi (keturunan Bani Hasyim) termasuk Ahli Bait, adalah riwayat yang mengatakan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata di hadapan cucu al-Harits bin Abdul Muththalib bin Hasyim dan juga Fadhl bin al-Abbas bin Abdul Muththalib bin Hasyim:

إِنَّ اَلصَّدَقَةَ لَا تَنْبَغِي لِآلِ مُحَمَّدٍ، إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ اَلنَّاسِ

“Sesungguhnya sedekah tidak pantas untuk keluarga Muhammad, karena ia adalah kotoran harta manusia.” (HR. Muslim: 1072)

5.       Keturunan bani al-Muththalib.

Semua keturunan al-Muththalib yang masuk Islam adalah ahli bait, di antaranya adalah Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib,[11] beliau gugur setelah perang Badr semoga Allah meridhai beliau-.

Termasuk juga Imam asy-Syafi’i rahimahullah, karena beliau adalah keturunan bani Muththalib, nama lengkap beliau adalah: Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay. [12]

Ahlu bait menurut syi’ah:

Adapun ahli bait menurut syi’ah, maka mereka berseberangan dengan pendapat Ahlus Sunnah di atas, mereka membatasi bahwa yang dimaksud dengan ahli bait kenabian hanya empat orang, yaitu: Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, adapun selain dari empat orang tersebut, maka mereka mengeluarkannya dari ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan mereka juga mempunyai pendapat ekstrim yaitu mengeluarkan anak-anak Ali sendiri yang bukan dari Fathimah, seperti Muhammad ibnul Hanafiyah. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, mereka mengeluarkan tiga anak perempuan nabi selain Fathimah, yaitu Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqayyah radhiyallahu ‘anhunna. Begitu juga suami-suami mereka dan anak-anak mereka. Semua tidak mereka anggap sebagai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[13]

B.       SIKAP AHLUS SUNNAH TERHADAP AHLU BAIT

Ahlus Sunnah wal Jamaah sangat mencintai ahlu bait dan memuliakan mereka, karena mencintai mereka adalah bagian dari kecintaan terhadap rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya Ahlus Sunnah mencintai keluarga nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjaga wasiat beliau kepada mereka, sebagaimana yang beliau katakan pada hari Ghadir Khum: ‘Aku ingatkan kalian (agar memuliakan) ahli baitku’, dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata kepada pamannya al-Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika ia mengeluhkan sikap Quraisy yang meremehkan Bani Hasyim, beliau berkata: ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, mereka tidak beriman sampai mereka mencintai kalian (ahli baitku)….’ Ahlus Sunnah juga loyal (setia) kepada istri-istri rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adalah ibu orang-orang yang beriman dan mereka adalah istri-istri nabi di dunia dan akhirat.”[14]

 Meskipun Ahlus Sunnah mencintai dan memuliakan ahli bait, akan tetapi Ahlus Sunnah tidak melampaui batas dan ghuluw (ekstrim) dalam mencintai mereka, Ahlus Sunnah mencintai ahlu bait selama mereka mengikuti sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berada di jalan yang lurus, Ahlus Sunnah berlepas diri dari mereka jika menyimpang dari agama, meskipun mereka adalah ahli bait -apalagi yang hanya mengaku-ngaku menjadi ahli bait-, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِيْنِيْ مَا شِئْتِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai Abbas bin Abdil Muththalib (paman nabi), sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Allah, wahai Shafiyyah bibi rasulullah sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Allah, wahai Fathimah binti Muhammad mintalah hartaku sesuka hatimu, tapi sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Allah.” (HR. Bukhari: 2753)

C.       Sikap Syi’ah Terhadap Ahli Bait

Adapun sikap Syi’ah kepada ahlu bait dan imam-imam yang mereka anggap keturunan Ali radhiyallahu ‘anhu, mereka percaya bahwa semuanya terhindar dari dosa (ma’sum), bahkan mereka percaya bahwa imam-imam mereka lebih mulia dari pada para nabi dan rasul ‘alaihimussalam, dan lebih mulia dari para malaikat terdekat ‘alaihimussalam.

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan al-Khumaini dalam kitabnya Wilayatul Faqih: “Di antara pokok-pokok madzhab kami adalah bahwasanya tidak ada seorang pun yang mendapatkan kedudukan manawiyah ruhiyah yang dimiliki oleh para imam-imam kami, meskipun malaikat yang dekat dan nabi yang diutus.”[15]

D.      KEUTAMAAN AHLI BAIT

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِير

“Dan hendaklah kalian (para isteri nabi) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33)

Ayat di atas menunjukkan betapa sayangnya Allah subhanahu wa ta’ala kepada para istri nabi (keluarga nabi), sehingga Allah ‘azza wa jalla ingin menjadikan mereka terhindar dari fitnah dan dosa.

Isteri seseorang adalah merupakan bagian dari keluarganya. Sebagaimana ketika Allah ta’ala menceritakan tentang keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

قَالُوا أَتَعْجَبِيْنَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud [11]: 73)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat di hadapan para sahabat sekembalinya beliau dari haji wada’, di sebuah tempat antara Makkah dan Madinah yang bernama Ghadir Khum, beliau bersabda:

أَمَّا بَعْدُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّيْ فَأُجِيْبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيْكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيْهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوْا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ. فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيْهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ.

Amma ba’du; Ketahuilah wahai para manusia! Sesungguhnya aku adalah seorang manusia, bisa jadi sudah dekat kedatangan utusan Rabbku, lalu aku menjawabnya. Dan aku tinggalkan di antara kalian dua perkara; pertama; Kitabullah (al-Qur’an). Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah dan berpegang teguhlah dengannya.” (Perawi berkata): maka beliau memotivasi dan menganjurkan untuk berpegang teguh dengannya. Kemudian Nabi Sallallahu ‘alaihi Wa Sallam berkata: “Dan yang kedua keluargaku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang (hak-hak) keluargaku. Beliau mengulangnya tiga kali.” (HR. Muslim no. 6378)

Dalam hadits di atas nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada para sahabat bahwa ajal beliau sudah sangat dekat sehingga beliau menyampaikan wasiat ini, hal ini menunjukkan juga bahwa dua hal yang diwasiatkan oleh rasulullah di atas sangatlah penting dan harus ditunaikan oleh umatnya. Yaitu berpegang teguh dengan al-Qur’an kitabullah dan menunaikan hak-hak ahli bait (keluarga nabi).

E.       PARA SALAF DAN AHLI BAIT

Para salaf dari kalangan para sahabat dan generasi sesudahnya sangat mencintai dan memuliakan ahli bait.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mencantumkan riwayat dalam kitabnya al-Bidayah wan Nihayah: “Dahulu ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, bertemu dengan al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma (cucu nabi) dan Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma, maka beliau berkata kepada al-Hasan: ‘Marhaban wa ahlan untuk cucu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, kemudian beliau memberikan kepada al-Hasan tiga ratus ribu (dinar), kemudian beliau berkata kepada Abdullah bin Zubair: ‘Marhaban wa ahlan untuk anak dari bibinya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, kemudian beliau memberikan kepadanya seratus ribu (dinar).”[16]

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah Berkata kepada Abdullah bin Hasan bin Husain radhiyallahu ‘anhum “Jika engkau ada kebutuhan, maka kirimkanlah surat kepadaku! Sesungguhnya aku malu kepada Allah bila Ia melihat engkau (berdiri) di depan pintu rumahku. Tidak ada di muka bumi ini keluarga yang lebih aku cintai daripada kalian. Sungguh kalian lebih aku cintai dari pada keluargaku sendiri.”[17]

Sengaja kami cantumkan di sini perkataan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah untuk membantah prasangka buruk yang senantiasa dituduhkan oleh sekelompok orang terhadap keluarga Bani Umayyah, bahwa mereka memusuhi atau membenci ahlul bait.

F.       ULAMA’ AHLUS SUNNAH DAN AHLI BAIT

Para ulama Ahlus Sunnah sangat mencintai ahli bait dan memuliakan mereka, berikut kami cantumkan beberapa nukilan dari mereka:

Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Husain al-Ajurri rahimahullah berkata:

وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ مَحَبَّةُ أَهْلِ بَيْتِ رَسُوْلِ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، بَنُوْ هَاشِمْ: عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ، وَفَاطِمَةُ وَوَلَدُهَا وَذُرِّيَّتُهَا، وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ وَأَوْلَادُهُمَا وَذُرِّيَّتُهُمَا، وَجَعْفَرُ الطَّيَّارُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ، وَحَمْزَةُ وَوَلَدُهُ، وَالْعَبَّاسُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَاجِبٌ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ مَحَبَّتُهُمْ وَإِكْرَامُهُمْ

“Diwajibkan atas setiap orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan mencintai keluarga (ahlul bait) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu: Bani Hasyim; Ali bin Abi Thalib beserta anak dan cucu-cucunya, Fathimah beserta anak dan cucu-cucunya, Hasan dan Husain beserta anak dan cucu-cucunya, Ja’far ath-Thayyaar beserta anak dan cucu-cucunya, Hamzah beserta anak dan cucu-cucunya, Abbas beserta anak dan cucu-cucunya. Mereka itulah keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diwajibkan atas orang-orang muslim untuk mencintai dan memuliakan mereka.”[18]

Al-Imam as-Sa’di rahimahullah berkata: “Mencintai Ahli bait hukumnya wajib karena beberapa sebab, yang pertama: karena keislaman, keutamaan dan dahulunya mereka masuk Islam, kedua: karena mereka adalah kerabat nabi dan senasab dengan beliau, ketiga: karena nabi memerintahkan kita mencintai dan memuliakan mereka.[19]

Begitulah para ulama Ahlus Sunnah, mereka sangat mencintai dan memuliakan ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

G.      Penutup

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita di antara orang-orang yang mencintai keluarga nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya kelak. Amin ya Rabbal alamin.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ… وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

.

REFERENSI:

  1. Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihi, Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr (Riyadh: Dar Ibn Atsir, 1422 H)
  2. Ar-Rahiq al-Makhtum, Shafiyurrahman al-Mubarakfuri (al-Manshurah: Dar el-Wafa’, 1425 H)
  3. Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1415 H)
  4. As-Syiah wa Ahlu Bait, Dr. Ihsan Ilahi Dzahir (Lahore: Idarah Turjuman as-Sunnah), hal: 25-26
  5. Al-Aqidah al-Wasitiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Dar Ibnu al-Jauzi)
  6. At-Tanbihat al-Lathifah fiima Ihtawat ‘Alaihi al-Wasitiyah, karya Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (Riyadh: Dar at-Tayyibah: 1414 H), Maktabah Syamilah.
  7. Al-Isti’ab fi Ma’rifati al-Ashhab, Ibnu Abdil Barr
  8. Dan kitab-kitab lainnya.

 


[1] Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihi, Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr hafidzahullah (Riyadh: Dar Ibn Atsir, 1422) hal: 7. Bandingkan juga dengan yang dikatakan Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah dalam Aqidah at-Tauhid, Dar al-Qasim hal: 162.

[2] Muththalib di sini bukanlah Abdul Muththalib, akan tetapi Muththalib di sini adalah saudaranya Hasyim, sedang Hasyim punya anak namanya Abdul Muththalib, sehingga Muththalib adalah pamannya Abdul Muththalib…sebenarnya Abdi Manaf mempunyai anak empat: Hasyim, Muththalib, Novel dan Abd Syams, akan tetapi yang masuk ahli bait di antara mereka hanyalah anak keturunan Hasyim dan anak keturunan Muththalib saja.

[3] Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihi, Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr, hal: 7.

[4] Lihat Shahih Muslim, 3/177 cet. Dar al-Jil, Beirut.

[5] Ar-Rahiq al-Makhtum, Shafiyurrahman Mubarakfuri (al-Manshurah: Dar el-Wafa’, 1425 H), hal: 406-407.

[6] Tafsir al-Qur’an al-Azhim, al-Imam Ibnu Katsir (Dar al-Thayyibah): 6/415.

[7] Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1415 H), 1/103

[8] Maksudnya Hasan dan Husain beserta anak keturunannya adalah ahli bait, karena bapak mereka berdua adalah Ali bin Abi Thalib seorang keturunan dari bani Hasyim, berbeda dengan menantu-menantu nabi yang lain yang bukan dari bani Hasyim.

[9] Semua cucu-cucu nabi dari anak-anak perempuan beliau, karena semua anak laki-laki nabi meninggal di usia kecil.

[10] Bani Hasyim di sini sangatlah banyak, yang mana di dalamnya mencakup paman-paman dan bibi-bibi nabi beserta anak keturunan mereka, akan tetapi yang dikatakan ahli bait adalah yang masuk Islam di antara mereka. Kami mencantumkan nama-nama di atas dari berbagai kitab-kitab siroh, dan untuk mengetahui nama-nama bani Abdul Muththalib bin Hayim, di antaranya silahkan lihat kitab: Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1415 H), 1/104-105.

[11] Lihat: al-Isti’ab fi Ma’rifati al-Ashhab, Ibn Abdil Barr: 2/99.

[12] Siyar A’lamin Nubala’ karya al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah, 10/5-6, dan Tahdzibul Asma’ wal Lughat karya al-Imam an-Nawawi rahimahullah, 1/44.

[13] Pembahasan ini telah kami bahas panjang lebar pada majalah kita edisi 66, vol. 8 hal. 12 tahun 1432 H/2010.

[14] Al-Aqidah al-Wasitiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dar Ibnu al-Jauzi, hal: 188.

[15] Wilayat al-Faqih, al-Khumaini cet. Teheran, hal: 57. Lihat juga as-Syiah wa Ahl Bait Dr. Ihsan Ilahi Dzahir (Lahore: Idarah Turjuman as-Sunnah), hal: 25-26.

[16] Al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam abul Fida’ Ibnu Katsir : 8/146.

[17] (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam “Thabaqaat Al Kubra”: 5/333-334).

[18] Lihat: asy-Syari’ah, karya al-Imam al-Ajurri : 3/3.

[19] Lihat: At-Tanbihat al-Lathifah fiima Ihtawat ‘Alaihi al-Wasithiyah, karya Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (Riyadh: Dar at-Tayyibah: 1414 H), Maktabah Syamilah. hal. 102.

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah adz Dzakhiirah al Islamiyyah Edisi 86 Vol.10 No.08 Th. 1435 H/ 2014 M)

Iklan

One comment on “Ahlul Bait dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s