Ngobrol dengan Seorang Nasrani (6) Selesai

keretaDi antara yang saya obrolkan dengan lelaki Nasrani di kereta SANCAKA SORE seputar banyaknya tokoh Muslim yang korupsi. Banyak pejabat Muslim yang nota bene adalah ahli agama, namun akhir dari karirnya mendekam di penjara karena korupsi. Demikian lelaki Nasrani itu mengeluhkan sebagian dari bobroknya negeri ini, akibat dari merajalelanya praktek korupsi.

Nampaknya, lelaki itu tidak lagi mampu menguasai emosinya, sehingga ia lebih lugas mengutarakan pandangannya yang negatif tehadap Islam dan ummatnya.

Mendengar serangan yang sangat menohok ini, saya berusaha untuk tetap tenang dan menguasai emosi saya, hingga lelaki itu benar-benar meluapkan isi hatinya dan selesai dari ucapannya.

Menanggapi serangan balik dari lelaki itu, saya mulai menyusun jawaban dari yang paling ringan dan simple. Saya berkata kepadanya: pak, apa yang bapak utarakan benar adanya, saya tidak memungkiri apalagi membela diri. Namun bapak perlu menyadari bahwa apa yang bapak utarakan di atas adalah bagian dari konsekwensi bapak tinggal di negeri dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam.

Bila bapak ingin mengetahui dan merasakan bagaimana hidup di negeri yang koruptor dan penjahatnya dari ummat Nasrani, maka silahkan tinggal di negeri yang penduduknya didominasi oleh ummat Nasrani. Di sana bapak pasti mendapatkan bahwa kebanyakan koruptor dan penjahatnya dari ummat Nasrani dan bukan dari ummat Islam.

Dari sisi lain, bapak juga harus sadar bahwa kebanyakan pejuang atau pahlawan dan orang-orang baik di negeri ini juga dari umat Islam, bukan dari ummat Nasrani.

Fakta ini mengaharuskan kita berpikir bijak dan adil serta jauh dari emosi pribadi yang menyebabkan kita berpikir sempit. Karena itu, menurut saya agama kita tidaklah mengajarkan ummatnya untuk berbuat jahat, hanya saja dari ummat Islam sebagaimana juga ummat Nasrani ada oknum-oknum yang berbuat jahat.

Perilaku oknum ummat Islam bukanlah cermin apalagi mewakili agama Islam. Sebagaimana perilaku ummat Nasrani belum tentu mencerminkan atau mewakili ajaran Nasrani. Sebagai contohnya: sebatas yang saya ketahui, tuhan yang bapak sembah yaitu Yesus atau menurut kami adalah nabi Isa alaihissalam berjenggot lebat. Paling kurang demikianlah yang tergambar pada berbagai patung atau poster Yesus.

Namun demikian, saya heran mengapa ummat Nasrani di berbagai belahan dunia tidak berjenggot. Kondisi ini menjadikan saya bernya tanya: ada apa, mungkinkah ummat Nasrani tidak meneladani tuhannya ataukah tuhannya yang salah dalam berpenampilan.

Dari sisi lain, bapak juga harus memahami bahwa Islam diturunkan agar menjadi pedoman hidup ummat manusia yang harus diamalkan secara sadar bukan dengan paksaan. Karena itu manusia dibekali dengan akal sehat agar dapat memahami, memikirkan dan membandingkan.

Dengan demikian ummat manusia dapat membedakan antara yang baik dari yang buruk, dan selajutnya memilih yang baik dan menjauhi yang buruk. Adapun bila masih tetap ada orang yang memilih perilaku buruk maka Islam juga telah memiliki berbagai solusinya. Pencuri dipotong tangannya, pembunuh dibalas dengan dibunuh, dan demikian seterusnya. Dan kelak di akhirat Allah menyiapkan siksa di neraka sebagai balasan atas amalan buruknya.

Apa yang bapak utarakan sejatinya adalah bagian dari keindahan Islam yang tidak mengenal kultus atau fanatik buta. Siapapun yang berbuat jahat maka ia harus menanggung akibat dari ulahnya. Karena itu dahulu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( إنما أهلك الذين قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد وايم الله لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها )

“Sejatinya yang menyebabkan ummat-ummat sebelum kalian mengalami kehancuran ialah sikap mereka yang pilih kasih. Bila yang mencuri adalah orang terhormat alias bangsawan maka mereka membiarkannya. Namun bila yang mencuri adalah rakyat jelata, maka menerka menegakkan hukum pidana kepadanya. Sungguh demi Allah, andai Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Mendengar jawaban saya ini lelaki itu berkata: benar, saat ini yang ada adalah pilih kasih dan perilaku yang berstandar ganda. Akibatnya terjadi kekacauan dan hilangnya kepastian hukum di negeri ini.

Sobatku! Sejatinya masih banyak tema yang saya bicarakan dengan lelaki Nasrani itu. Kami berdiskusi sejak dari stasiun Solo Balapan Hingga tiba di stasiun Gubeng, sekitar 4,5 jam lamanya. Namun karena berbagai hal, maka saya cukupkan sampai di sini saja yang perlu saya ceritakan, semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi antum sekalian, dan semoga Allah Ta’ala melimpahkan istiqamah dan husnul khatimah kepada kita semua, amiin.

[Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri]

Iklan

One comment on “Ngobrol dengan Seorang Nasrani (6) Selesai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s