Kisah Kadir yang Tidak Mencintai Istrinya yang Cantik

cintaSEBUT saja namanya Kadir asal Makassar, ia merasa sebagai suami paling bodoh di dalam hidupnya. Pasalnya, ia telah mencampakkan dan menelantarkan istrinya.

Bermula saat Kadir masih bujangan, ia senang dengan hidup hedon, berfoya-foya, nongkrong tanpa tujuan yang jelas, dan masih menganggur. Hingga suatu saat ia bertemu dengan seorang bapak yang memberikan pekerjaan kepadanya, dan juga membantu kebutuhan hidupnya.

Suatu saat bapak itu bertanya kepada Kadir, “Sudah siap nikah atau belum, Nak? Bapak punya calon istri sholehah. Cocok buat kamu!”

Kadir sesungguhnya tidak mau berpikir ke sana. Namun, melihat banyaknya kontribusi sang bapak dalam kehidupannya, akhirnya Kadir tak mengelak.

“Yang penting bisa bisa membuat sang bapak bahagia, sehingga masih bisa membantuku!” pikir Kadir.

Kadir tak pernah mau tahu kecantikan dan karakter calon pasangannya. Karena dalam pikirannya, “Masalah calon tak penting bagiku. Kalau nggak cocok, ya tinggal ceraikan saja,..!”

Singkat cerita, akad dan walimahan pun selesai. Di malam pertamanya, Kadir tak pernah berbicara pada istrinya. Hampa.

Bahkan lebih dari seminggu, Kadir mendiamkan istrinya yang cantik lagi berjilbab besar. Ia pun tak pernah menyentuh istrinya. Ia tak peduli perasaan istrinya. Demikianlah karakter Kadir saat itu.

Hari ke-8, barulah Kadir memaksakan dirinya untuk memberikan nafkah biologis kepada istrinya. Itupun tak memunculkan rasa cinta di hati Kadir. Hampa.

Tragisnya, setelah menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami, ia mengancam istrinya agar tidak hamil dulu. Karena ia tak mau repot mengurus anak. Sang istri hanya tertunduk sedih, meratap, dan sabar.

Beberapa bulan kemudian, istri Kadir Alhamdulillah positif hamil. Namun, berita gembira itu malah membuat Kadir marah dan akhirnya Kadir menjauh dari istrinya. Sampai kemudian Kadir tega menyuruh istrinya berjuang sendiri mengandung anak. Hal ini berlangsung hingga istrinya melahirkan. Miris sekali.

Hingga, datanglah hidayah dari Allah Azza wa Jalla. Beberapa hari setelah kelahiran anaknya, Kadir selalu mendengar jeritan tangis anaknya di malam hari. Saat itu, Kadir pura-pura tertidur. Istrinya dengan sabar bangun untuk menenangkan anaknya, dan mengganti popok anaknya yang basah karena pipis.

Kadir terperangah. Ia tahu bahwa istrinya pasti sangat lelah. Setiap malam dan siang, ia harus mencurahkan perhatian kepada anak kecil yang lucu itu.

Akhirnya di suatu malam, saat istri dan anak Kadir tertidur lelap, Kadir menatap wajah istri dan anaknya. Berdesir hati Kadir, gejolak iba dalam hatinya menyeruak, hingga ia meneteskan air mata malam itu.

Kadir tak bisa lagi tertidur.

Ia merebahkan badannya di sofa depan. Sambil ia menyesali semua perilaku zholim kepada istri dan buah hatinya. Ia teringat bagaimana kesabaran istri saat mengandung. Bahkan di saat istrinya mulai kesal, sang istri segera mengambil air wudhu dan sholat tahajjud sambil berdoa yang diiringi dengan derai air mata.

Masya Allah.

Akhirnya, Kadir berkata, “Haruskan aku menambah penderitaannya? Tidak! Aku harus berubah. Sebelum semua terlambat. Aku harus mulai mengubah perilaku burukku. Aku harus bertanggung jawab. Akan kucoba untuk mulai mencintai dan menyayangi istri dan anakku.”

Saat itu, Kadir segera mencucikan pakaian kotor istri dan anaknya. Ia membuatkan sarapan ala kadarnya buat istrinya. Dan setelah semua usai, Kadir mencium kening anaknya yang lucu sambil menggerakkan tangan kananya ke sisi istrinya. Lalu dengan lembut sang istri meraih tangannya, lalu menciumnya tanda ia mencintai suaminya.

Subhanallah.

Tak terasa Kadir meneteskan air mata. Ia menyeka air matanya yang terus berderai. Kadir bertaubat.

Allahu akbar!

(Sumber: Kisah Nyata dari Seseorang di Makassar, Nama Kadir adalah nama samaran)

Mutiara Hikmah:

1. Bukan syarat menikah mencintai calon.

2. Anak adalah rezki.

3. Kesabaran seorang istri dalam menyikapi suami dan merawat anak.

4. Belajar menahan marah.

5. Mustajabnya do’a di 1/3 malam.

6. Belajar mencintai istri.

7. Perjuangan seorang ibu dalam mengandung dan melahirkan anak.

8. Kesalahan suami tidak disikapi dengan marah, tapi dengan memperlihatkan akhlak yang baik.

9. Keluarga sakinah wa rahmah adalah harta yang paling berharga.

Semoga Alloh azza wa jalla memberi taufik kepada kita semua….

(Abu Hanin) –Sulsel, 3 Dzulqa’dah 1435 H

Posted by Ummu Hanin Khoiriyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s