Kenapa Saya Memakai Kain Penutup Wajah (1)

kisah cadarBismillaah

Ada yang bilang cadar. Ada yang bilang niqob. Ada yang bilang purdah. Duh siapa saya. Bahkan dulu saya gak tau bedanya. Tidak tau ada hal-hal seperti itu dalam kehidupan Nabi dan para sahabat. Gak ada terlintas pun meskipun cuma mimpi akan mengenakan kain tersebut dalam hidup saya.

Pertama kalinya saya bertemu orang-orang yang memakai kain tersebut adalah saat datang ke majelis taklim. Saat itu saya datang memakai setelan tunik dan celana panjang berwarna babypink. Dengan kerudung lilit-lilit dimasukkan ke dada (bukan diuraikan). Tanpa kaus kaki. Ye iyaalah mana pake.

Jangan tanya perasaan saya. Manusia sok matching yang sejak dulu terbiasa mengedepankan penampilan. Merasa salah kostum. Ditanya suami apa isi taklimnya tadi, bun? Duhh…Boro-boro ngeh..selama di dalam ruangan hati saya sibuk mengira-ngira kenapa mereka memakai pakaian seperti itu.

Tapi satu kesan saya : they were really nice. Mereka kompak menyapa saya, menghidangkan makanan minuman untuk saya, bertanya hal-hal keseharian saya. Tidak ada pembicaraan yang menyinggung tentang penampilan saya yang berbeda dengan mereka.

Dengan penuh rasa aneh seperti disengat sesuatu yang ghaib, pertemuan selanjutnya mendadak saya ingin memakai kaus kaki. Mencari-cari adakah gamis atau minimal rok panjang supaya penampilan saya tidak jomplang dengan mereka. Padahal mereka tidak pernah menyampaikan kewajiban menutup aurat dengan segala dalil-dalilnya. Begitupun suami. Seolah suami memberi saya waktu untuk berfikir sendiri.

Kemudian waktu berlalu. Sambil terus mencari-cari dalil-dalilnya..googling sana sini. Baca-baca beberapa kitab terjemahan. Lalu liat Qur’an sendiri terkaget-kaget selama ini saya kemana aja? Kok tertera dengan jelas di surat al Ahzab 59 bagian footnote:
Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup KEPALA, WAJAH, dan DADA. Jelas tertulis.

Mh…lelah batin saya. Mengapa saya tidak tau? Mengapa hal ini seolah disembunyikan? Apakah ini terlarang?

Terus berlanjut dengan proses yang semakin kompleks. Kenapa kompleks? Karena hati mulai berkecamuk ingin tapi tau, lingkungan tidak akan mudah menerima. Jujur saya dulu tidak memikirkan kapasitas ilmu dan akhlak saya. Bukan itu yg jd pertimbangan. Suami jelas mendukung. Betapa dengan agama ini orang bisa 180° berubah.

Suami yang tadinya gak ngeh silahkan istri mau dandan apa aja. Mau ngetat mau longgar. Mau rok mau celana panjang. Yang penting masih enak dilihat gak seronok atau norak. Ngobrol dalam 1 ruangan dengan suami saat ada tamu laki-laki. Jalan bareng. Menyuguhkan hidangan ke tamu laki-laki, dll. Semua, suami masih jahil jadi merasa itu normalnormal aja.

Semua berubah setelah sedikit-sedikit belajar agama. Kalo ada tamu laki-laki saya langsung disuruh masuk kamar.
Gak boleh keliatan. Suami siapin sendiri minum buat tamu laki-lakinya. Saat ke tempat umum mulai cerewet, jangan pake baju mencolok. Kalo bisa kerudungnya lebih panjang aja. Heh??? Sejak kapan nih. Di situ mulai ego saya main. Kamu menikahi saya dalam keadaan saya begini. Kamu pun tidak begitu. Kenapa sekarang saya mesti mendadak jadi ibu-ibu sholehah???

Suami sabar sekali. Tidak pernah memaksa. Saya yang karena bab nya sensitif jadi dulu sempat merasa didikte. Barulah saya tau ternyata inilah yang dimaksud dengan ‘suami membimbing istri’.

Akhirnya hati saya bisa menerima bahwa inilah yang harus saya kerjakan. Saya harus mulai belajar menutup wajah saya. Saya ingin dianggap sebagai ‘istri-istri orang beriman’ sesuai panggilan dari Allah dalam surat al Ahzab tersebut.

Lalu saya bilang suami, “Yah, Bunda pengin punya cadar.” Huhhh dia masam mesem bahagia. Istrinya yang jutek dan keras kepala minta dibelikan cadar. Satu hari keliling-keliling Bandung gak dapet itu kerudung cadar. Pasar baru gak ada. Toko baju muslim gak ada. Gerai-gerai kecil di daerah gerlong gak ada. Hanya ada 1 yang jual. Dia sodorkan kerudung dengan cadar berwarna hitam dan biru dongker.

Saya : mh..gak ada warna lain mba?
Penjual : abis mba. Mba mau warna apa?
Saya : pink..ungu..tosca..merah ati..semacam itulah yang cerah-cerah.
Penjual : biasanya yang gelap-gelap aja mba jualnya.
Hehe.

Ya begitulah. Mulailah saya produksi cadar sakarep dewe. Semua mesti matching. Warna yang saya suka selama pake jilbab mesti ada versi cadarnya. Gamis-gamis bikin sendiri. Senang rasanya. Excited.

Suami biarkan istrinya mencintai menutup wajah meski masih salah kaprah. Mungkin dia tak ingin mematahkan semangat istrinya. Dia tau kalo saya dimarahin, bisa lebih pundung dan mundur jauh ke belakang.

Sampai setelah beberapa bulan berlalu. Ada yang berkomentar : “Kalo ada yang pake cadar oranye, pink, ungu, dll itu pasti Bu Rama.” Deg.

Saya baca-baca lagi maksud memakai cadar untuk apa. Ya Allah. Cadar itu menutupi kecantikan. Menutupi keindahan. Untuk tidak menarik perhatian. Kecantikan itu bukan selalu rupa. Pakaian. Kerudung. Aksesoris dll.
Lalu apa yang saya lakukan selama ini?

Alhamdulillaah atas kasih sayang Allah mulailah saya mencintai warna hitam.

Insyaallah bersambung yaa.
Barakalaahu fiikum
Semoga ada yang bisa diambil hikmahnya.

Pengalaman pribadi Bunda Kaska

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s