Benarkah Rasulullah Lahir dalam Keadaan Dikhitan?

Saya ingin bertanya, apakah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan…? (081x34878xxx)

Jawab:

Hadits – hadits yang bersangkutan dengan masalah ini memang banyak, akan tetapi semuanya lemah derajatnya, di antaranya adalah hadits berikut:

Dari Anas Bin Malik radliyallahu’anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Termasuk bagian dari karomahku dari Allah, aku dilahirkan dalam keadaan telah dikhitan, dan tidak seorangpun melihat aurotku…”

Keterangan: Hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam kitab ash Shaghir dan Al Ausath, di dalamnya ada Sufyan Ibnu Al Fazari, sedangkan dia adalah perawi yang tertuduh pendusta. [1] Demikian juga hadits – hadits yang semakna, semuanya lemah…! [2]

Adapun perkataan bahwa hal tersebut adalah kekhususan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu tidak benar karena landasannya salah. Bahkan setiap bayi adalah terlahir dalam keadaan belum dikhitan. [3] Karena tidak ada keterangan yang sah baik secara dalil maupun penelitian dokter, maka kita kembalikan kepada asal dari setiap kelahiran itu sendiri, bahwa setiap bayi yang lahir itu dalam keadaan belum dikhitan.

Demikian pula, manusia justru berpendapat kelahiran bayi yang sempurna adalah dimana bayi itu keluar dari rahim ibunya dalam keadaan belum dikhitan. Justru ketika bayi lahir dalam keadaan telah terkhitan, maka itu sebuah ke-tidaknormal-an. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah disifati dengan ciptaan yang paling sempurna. [4]

Catatan Kaki:

[1]. Dalam kitab Majama’ Az Zawaid, III/392

[2]. Dijelaskan Imam Adz Dzahabiy dalam kitab Talkhish-nya,” Kami tidak mengetahui keabsahan hadits tersebut, bagaimana mungkin dikatakan mutawatir…? Adapun perkataan (sebagian ulama) hadits tersebut mutawatir, maka maksudnya adalah jumlah dari hadits semisal memang sangatlah banyak. (dalam kitab Nadhmul Mutanatsir, halaman 243)

[3]. Fatwa Lajnah Da’imah, VII/85, Zadul Ma’ad, I/18 dan kitab Liqo’al Babul Maftuh, V/32

[4]. Penjelasan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud hlm. 172-173

dikutip dari Majalah Al Furqon, Edisi 9th. ke-9 1431 H/2010

Iklan
By Bahtera Ilmu Posted in Kisah Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s